Baca Yuk !!
- Arek Asrama (2)
- Berbagi Tawa (2)
- Di Balik Sarang Lebah (25)
- Jalan-Jalan Santai (12)
- Kisah Inspriatif (13)
- Kupanggil Dia Ners (5)
- Opini (1)
Di Balik Sarang Lebah Eps 24 – Romansa Lorong Indomrt
Ebook Gratis - Di Balik Sarang Lebah
Di Balik Sarang Lebah
Kisah cinta lucu masa SMA, kelanjutan dari Novel "Lebah Pencari Madu" dan "Melintasi Waktu".
Official Soundtrack
Dengarkan alunan "Timeless Utopia", nyawa yang mengiringi setiap lembar kisah dalam novel Di Balik Sarang Lebah.
Butuh akses cepat tanpa kuota? Simpan file PDF-nya sekarang.
Download PDF GratisDibalik Sarang Lebah Eps 23 – Demam Full House: Saat "Semangat" Menjadi Polusi Suara
Di Balik Sarang Lebah Eps 22 – Huru-Hara Sweet Seventeen Dian: Antara Glamour dan Doa Mustajab
Di Balik Sarang Lebah Eps 21: Ekspedisi di Bukit Belakang RSD Kalisat
Di kelas 2.4, setelah bel istirahat berbunyi, Dian mengumpulkan kami bak panglima perang.
Kami semua antusias. Dalam bayangan kami: Wah, pasti naik Gunung nih! Atau minimal ke pantai lah!
Di Balik Sarang Lebah Episode 20 - Misi "Benteng Gaib" dan Hujan di Sukogidrih
Dibalik Sarang Lebah Eps 19 – Ekstra Bersama: Misi Mulia atau Modus Masal?
Dibalik Sarang Lebah Eps 18 - Curah Lembu dan Kenangan Itu
Dibalik Sarang Lebah Eps 17 - Cinta Dua Minggu dan Sepeda GL
Dibalik Sarang Lebah Eps 16 – Dian Si Sufi Cinta
"Assalamualaikum…"
Telinga dengar, tapi jiwa udah mode airplane. Biar ibu aja yang jadi satpam rumah.
Tiba-tiba ibu muncul seperti alarm manusia.
"Bangun! Ada Fian di depan!"
"Hadehhh…"
Tolong, baru juga rebahan 2 detik, udah ada drama datang!
Dengan langkah penuh penderitaan, aku ke ruang tamu. Di sana Fian duduk seperti orang habis ditilang satpam sekolah.
"Ada apa, bro?"
"Aku minta tolong… Dian mau ngelabrak aku!"
Hah? Plot twist!
Dian itu sahabatku, tapi dia juga punya hobi unik: jodoh-jodohin orang. Nama keren dia: Sufi Cinta. Tapi seringnya hasil jodohan dia malah jadi sinetron dua season.
"Kamu tahu Ica kan, anak IPA 1?"
Tentu tahu! Ica itu tokoh sentral drama remaja kita: mantan Marvel, mantan Maliq, mantan Risan dan sekarang calon mantan seseorang lagi.
"Awalnya aku dijodohin sama Ica oleh Dian, eh tahu-tahu Ali juga masuk daftar jodoh…"
Duh, ini cinta segitiga hasil matchmaking tak bertanggung jawab!
Baru mau nanggepin, pintu rumah dibuka.
Dian dan Ali datang.
Dian terlihat marah, dan Ali bawa… sesuatu dibungkus kertas kayu. Entah itu pigura atau senjata pemusnah cinta massal.
Aku panik. Ini rumahku, bukan panggung debat cinta. Kalau sampai ribut, ibu bisa blacklist semua dari rumah ini. Maka otak langsung nyari solusi tercepat ala rapat darurat:
"Kita pindah lokasi! Ke rumah Erfin!"
Karena rumah Prita kejauhan, dan rumah Erfin... ya, cukup luas untuk konferensi meja bundar.
Sampai di rumah Erfin, dia menyambut dengan muka panik.
"Ada apa ini? Kok kayak demo massa?"
"Tenang, Fin. Kita cuma mau ngobrol... dikit."
Setelah duduk, aku langsung buka rapat.
"Oke guys, kita gak boleh emosi. Kalau ada yang naik darah, kita bubar!"
Mereka semua angguk... termasuk Erfin yang sepertinya masih belum sadar dia tuan rumah acara.
Satu per satu cerita mulai keluar.
Ternyata benar:
• Dian jodohin Ica ke Fian.
• Eh, masuk Ali.
• Ica-nya nurut aja karena... ya, Dian tuh Sufi Cinta, kayak punya kekuatan spiritual jodoh.
• Fian ciut datang kepadaku karena dia tahu Dian adalah sahabatku selain itu Fian takut berselisih dengan Dian karena bagaimanapun juga Dian adalah bagian dari Lebah sama sepertiku.
Ali mulai emosi, nunjuk-nunjuk Fian kayak lagi ikut debat capres. Aku langsung jadi wasit:
"Stop! Gak boleh emosi!"
Akhirnya aku lempar ide jenius:
"Kenapa nggak kita panggil aja Ica? Biar dia yang milih sendiri!"
Semua setuju.
Aku pinjam HP Dian, telepon Ica.
"Ica, bisa ke rumah Erfin? Kita perlu kamu... demi kemaslahatan umat."
Tapi... siapa yang jemput?
"Erfin."
"Palang ketempoan, Engkok!" [Mampus aku yang enak]
Sorry Fin, kamu masuk tim logistik sekarang.
Beberapa menit kemudian Ica datang, ekspresinya kayak peserta ujian matematika nasional.
Kami duduk melingkar, formasi ritual pilihan jodoh dimulai.
Aku buka forum:
"Oke Ica, kamu dengar ceritanya. Sekarang tinggal kamu yang pilih."
Ali tiba-tiba angkat tangan,
"Tunggu! Aku mau kasih ini dulu."
Dia serahkan benda misterius itu ke Ica.
Dibuka...
Ternyata lukisan wajah Ica.
Yang lukis? Ali.
Yang baper? Semua.
Setelah semua tenang...
"Ayo Ica, pilih. Gak usah ragu. Kita semua siap menerima."
Ica diam... lalu berkata seperti kontestan reality show:
"Aku memilih… Fian."
Boom.
Fian senyum malu-malu. Ali kecewa, tapi pasrah. Dian? Mukanya seperti habis ditolak beasiswa.
Setelah itu kami semua pulang.
Adzan Magrib berkumandang seakan berkata:
"Cinta boleh ribet, tapi salat tetap wajib."
Aku berjalan pulang sambil berpikir:
Kenapa aku bisa-bisanya jadi penengah cinta-cintaan begini? Bahkan lebih dramatis dari sinetron Indosiar. Dan yang paling lucu dan mungkin kalian tidak peduli... aku belum sempat tidur siang.
Dibalik Sarang Lebah Eps 15 – Perjalanan Cinta Paling Tragis
Dibalik Sarang Lebah Eps 14 – Cantik Ala Monalisa
Cantik itu relatif, bergantung pada selera masing-masing orang di zamannya. Di era milenium seperti sekarang, kita boleh berbangga dengan standar kecantikan yang katanya "wanita cantik, seksi, dan putih". Tapi tunggu dulu, apakah standar ini mutlak? Tentu tidak! Kalau kita mundur ke abad ke-16, misalnya, dalam lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci, masyarakat saat itu lebih suka wanita gemuk dari pada yang kurus atau seksi kayak model iklan skincare jaman now. Jadi, kalau ada yang bilang “gemuk itu nggak cantik”, coba kasih tahu mereka bahwa zaman dulu, gemuk itu malah simbol kemakmuran dan kebahagiaan. Siapa cepat, siapa dapat—kalau nggak cepat, ya jatah makanannya habis duluan sama tetangga!
Nah, ceritanya balik lagi ke tahun-tahun sekolah kami di SMAN Kalisat. Di sana ada seorang wanita cantik bernama Leli. Postur tubuhnya sehat, tapi teman-teman memberinya julukan spesial: Leli Ndut . Sekarang kalau dipikir-pikir, julukan ini pasti bakal masuk kategori body shaming tingkat dewa, tapi di tahun 2002-2005, istilah bullying atau body shaming belum ngetren. Atau mungkin Leli sudah pasrah dengan olok-olokan tersebut, atau mungkin dia diam-diam punya rencana balas dendam dengan mempermalukan para pelaku kelak di acara reuni.
Fakta menarik tentang Leli adalah dia bukan gadis desa biasa. Dia anak kota tulen yang entah kenapa nyasar ke Kalisat. Rumahnya di perumahan elit di Jember, lulusan salah satu SMP favorit di sana. Mungkin dia sedang menjalani misi rahasia dari CIA untuk menyamar jadi warga lokal, tapi teori ini masih butuh pembuktian lebih lanjut. Walau begitu, Leli termasuk humble alias ramah banget, sehingga teman-teman di sekitarnya sangat menyayanginya. Meski badannya agak besar ala Monalisa versi modern, dia berhasil membuat banyak pria di sekolah kami bertekuk lutut (bukan karena berat badannya, ya, tapi karena pesonanya).
Drama percintaan Leli di sekolah kami bisa dibilang mirip sinetron Cinta Fitri , tapi tanpa adegan nangis bombay dan pingsan di depan gerbang sekolah. Ada Fendi, si cowok pintar yang tiba-tiba nangis bombay waktu Leli ninggalin dia buat cowok lain. Ada juga Awan dan Febri, dua punggawa basket sekolah kami. Awan si Point Guard tampan dan Febri si Power Forward yang kulitnya agak kontras dibandingkan Awan. Perseteruan mereka berdua akhirnya berakhir setelah Leli memilih Awan sebagai pemenangnya. Alasan utamanya? Selain lebih tampan, kulit Awan nggak terlalu kontras, jadi cocok buat difoto bareng di madding sekolah—eh, maksudnya di album kenangan sekolah.
Pengorbanan Awan demi cintanya pada Leli juga nggak main-main. Suatu hari, saat perjalanan mendaki Kawah Ijen, Awan nekat membawa boneka Mickey Mouse pemberian Leli sampai ke puncak hanya untuk membuktikan betapa besarnya cintanya. Kami semua yang ikut rombongan cuma bisa geleng-geleng kepala, mikir, "Waduh, cinta emang bikin orang jadi gila." Tapi, jujur saja, momen itu manis banget. Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah awal mula tren public display of affection di kalangan pelajar.
Jadi, intinya, cantik itu relatif, tapi cinta itu universal. Dan kalau kamu mau ditolak cewek, bawa boneka Mickey Mouse ke gunung—siapa tahu itu trik ampuh buat menaklukkan hatinya.
Dan jangan tanya endingnya apakah Leli menikah dengan Awan.. seperti biasa saya jawab TIDAK.
Dibalik Sarang Lebah Eps 13 – Cinta Garis Tiga
Dibalik Sarang Lebah Eps 12 - Cinta Sembilan Belas Hari
Dibalik Sarang Lebah Eps. 11 – Cemerlang dan Cokelat
Dibalik Sarang Lebah Eps. 10 – SMA Negeri Kalisat Jaman Itu !
Dibalik Sarang Lebah Eps. 9 – Sang Petualang Cinta
Dibalik Sarang Lebah Eps. 8 – Cinta di Balik Gawang
Dibalik Sarang Lebah Eps 7 – Cinta, Basket, dan Endorse Bikini
Dibalik Sarang Lebah – Eps 4. Rivalitas Abadi

















