-->

Baca Yuk !!

Showing posts with label Kisah Inspriatif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspriatif. Show all posts

[Kisah Inspiratif] ANAK PETANI JADI KEPALA DESA


Eli Febrianto biasa di panggil Eli, Alumni SMAN 1 Kalisat Tahun 2005 ini sekarang menjabat sebagai kepala desa Mayang Kab Jember. Anak tunggal dari ayah seorang petani sederhana dengan ibu rumah tangga sambil usaha kecil-kecilan yaitu membuka toko klontong dirumahnya. Perjuangan sekolahnya sungguh luar biasa, Eli harus menempuh jarak 8 kilo meter dengan bersepeda ontel sampai Polsek Mayang untuk dititipkan disana kemudian melanjutkan perjalanan naik angkot ke SMAN 1 Kalisat, dengan sabar aktifitas tersebut dilakukannya selama 3 tahun lamanya
Eli sendiri sadar jika dia bukan termasuk orang yang pintar, hanya dengan kerja keras dia bisa menyelesaikan masa SMAnya. Awalnya Eli memiliki impian untuk menjadi seorang guru. Tidak sia-sia Kerja kerasnya dalam mencari ilmu semasa sekolah membuat dia diterima kuliah D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Jember.

Walau dengan keterbatasan ekonomi Eli tetap gigih menjalani perkuliahan hingga dinyatakan lulus D2 PGSD. Bukannya bahagia dengan kelulusan Eli malah harus mengubur impinannya untuk menjadi seorang guru, karena gaji guru honorer tidak mencukupi kehidupannya yang kini telah menyandang status kepala rumah tangga . Apalagi Istri hamil besar membuat dia semakin yakin dengan keputusan tersebut. Untuk mencukupi kehidupannya dia memutuskan untuk bekerja sebagai seles Motor namun hanya bertahan selama 4 bulan saja. Tak patah semangat dia mencoba peruntungan membuka counter HP dirumahnya, namun karena kebutuhan ekonomi dia mencari pekerjaan lainnya. Ternyata mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Akhirnya ditahun 2010 dia diterima sebagai pegawai SPBU dengan sistem kontrak 2 tahun.

JALAN MURNI LULUS CPNS I 11 tahun penantian, jalan itu masih ada, selamat istriku!!

 


Alhamdulillah karir ku dalam pekerjaan selalu di mudahkan Allah SWT, Allah SWT selalu membukakan jalan bagiku dan telah banyak karunia yang diberikan namun ada satu hal yang cukup sulit bagiku. Istriku adalah seseorang yang pintar telah banyak aku dapatkan cerita tentang dia baik dari teman maupun dari saudara tentang prestasi sekolah dan kuliah yang telah dicapainya.

Kami menikah tahun 2013 namun selama perjalanan tersebut dia selalu aktif mengikuti seleksi penerimaan pegawai negeri tak seperti diriku yang pernah absen mengikuti ujian tsb, bukan hanya itu setelah moratorium tahun 2014 tentang pengadaan PNS dia masih tetap mengikuti seleksi ujian lokal pegawai non PNS diberbagai tempat, karena semenjak lulus dia bekerja di klinik swasta sejak tahun 2011 namun setelah aku lanjut studi master dan kami dikaruniahi seorang anak, keputusan untuk pindah harus kami terima, pindah ketempat yang lebih dekat karena klinik swasta tsb berada dikota dengan konsekwensi menjadi tenaga sukarelawan dengan gaji minim, jadi bisa dikatakan istriku sekarang tidak punya penghasilan seperti sebelumnya dan hanya bergantung pada penghasilan dariku, aku bilang untuk pakai semuanya untuk kebutuhannya dan anak kami, karena aku dapat full beasiswa ketika kuliah master.

Sambil menjadi tenaga sukarelawan di puskesmas istriku tetap aktif mengikuti ujian seleksi pegawai mau kontrak, pegawai tidak tetap, non pns atau apapun yang menurut kita bisa meningkatkan kesejahteraan hidup, namun ada yang aneh dan terpola, seleksi selalu dimulai dari ujian tulis, skill tes, kadang ada tes psikologi setelah itu terakhir wawancara, hasil yang selalu didapat adalah menjadi terbaik di ujian tulis biasanya peringkat 1 atau 2 begitu juga di skill test dan test berikutnya tapi selalu gagal di test wawancara, berkali-kali test dilakukan tapi tetap gagal dan gagal, begitu seterusnya. Aku selalu mengatakan

“Gak pa-pa, masih belum rejeki”

Dengan maksud agar menenangkan hati untuk tetap semangat mengikuti ujian selanjutnya, awalnya aku merasa wajar karena dia tidak siap tapi lama-kelamaan kegagalan Nampak sebagai hal yang tidak biasa.

Kami bukannya tidak melakukan apa-apa untuk belajar, doa, puasa dan sholat telah kami lakukan sebagai bentuk usaha atau ikhtiar, tapi masih saja gagal, aku sampai berfikir mungkin aku dan istri punya dosa hingga Allah SWT belum membukakan pertolonganNya, oleh karena itu kami coba meningkatkan usaha untuk mencapai apa yang kita inginkan dan senantiasa memohon ampun pada Allah SWT.

Ketika gagal kami selalu memotivasi diri dan meningkatkan kemampuan agar lancar dalam melaksanakan ujian dan tak lupa meminta ridho orang tua agar sukses, karena aku sendiri punya rumus kesuksesan sejak dulu, aku selalu melihat sosok ayah yang telah sukses mengantarkan putra putrinya lulus ujian bagitu juga CPNS yaitu dengan cara meminta pada Allah dengan amalan doa, sholat plus sholat malam dan dhuha disertai puasa, biasanya setelah melakukan sholat aku berdoa sesuai dengan tuntunan.

Tahun 2017 tahun yang tak terlupakan bagi kami, ditahun itu istri hamil besar dan kebetulan ada seleksi ujian lokal disalah satu instansi, kali ini kami mempersiapkan dengan matang hingga kita pernah ikut bimbel disalah satu tempat kursus meskipun bersama anak-anak SMA tetap kita jalani dengan ikhlas, dan alhamdulliah hasilnya test tulis dan skill test masuk peringkat teratas, skill test dihadapi dengan cukup berat karena sedang hamil besar dan menunggu antrian cukup lama tapi Alhamdulillah berhasil, hingga sampai di wawancara, test wawancara ini kami telah mempersiapkan secara matang hingga mencari cara menjawab pertanyaan yang baik dan benar karena di test ini istriku sering gagal, setelah ujian kami merasa lega karena lagi-lagi pertanyaan yang ditanyakan sesuai dengan prediksi, kami optimis akan lolos.

Pengumuman dibagikan dimalam hari Ba’da Isya’ dan kita bisa mengakses secara online, ketika kami bersama-sama membukanya hasilnya “TIDAK LOLOS” aku segera memeluknya dan tetap mengatakan

“Gak pa-pa, masih belum rejeki”

Istriku hanya diam dan masuk kamar, kata-kata “masih belum rejeki itu” menjadi kata-kata template disetiap ujian yang mungkin sudah tidak berarti apa-apa karena lebih 10 kali dia mengikuti berbagai macam seleksi atau ujian, hari itu aku tak berani mendekatinya dikamar dia menangis, melihat pemandangan tersebut aku ikut berkaca-kaca, akupun segera mengambil air wudu untuk sholat Isya’, selesai sholat aku tidak berdoa dan terdiam dalam hati aku hanya berucap

“ Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha melihat”

Karena aku yakin malam itu Allah SWT melihat kami yang sudah mulai putus asa, pemandangan pilu itu mungkin cukup sebagai pengganti doa dimalam itu.

Setelah kejadian dimalam itu tahun berikutnya kami tetap berikhtiar namun sudah lebih lega karena kami pasrah, lolos atau tidak kita pasrah dan tak peduli. Tahun 2019 kembali ada perakrutan CPNS dia memilih di daerah kota yang agak jauh dari rumah, istriku mencoba di SKD nilainya cukup bagus tapi tidak lolos SKB dikarena peringkat 4 dan hanya tiga orang yang berhak mengikuti SKB dikarenakan hanya satu formasi waktu itu.

Dengan hasil tersebut semakin kami termotivasi untuk mengikutinya hingga ditahun 2021 ada lagi pembukaan CPNS kali ini formasi ditempat dia bekerja dengan 2 formasi, aku bilang

“ Kita habis-habisan tahun ini”

Doa, sholat, puasa tetap kita lakukan plus bimbel online persiapan dua bulan akhirnya membuahkan hasil nilainya cukup baik tapi tidak terlalu besar untuk ukuran rata-rata nasional, karena hanya ada 9 peserta yang mengikuti SKD, istriku ujian di hari pertama karena dalam satu minggu peserta terbagi menjadi beberapa hari ujian di hari pertama istriku peringkat 1 SKD tapi dihari ke 2 posisi bergeser ke urutan ke 2. Kami mulai khawatir walau posisi SKB sudah pasti lolos namun nilai SKD juga mempengaruhi nilai total karena target kami minimal peringkat 2 untuk nilai SKD dan SKB.

Pagi hari atau satu hari sebelum ujian hari ketiga para pesaing, aku mendapatkan video motivasi dari youtube tentang manfaat sedekah dan aku baru paham jika doa itu harus di pancing dengan sedekah, karena pemikiraku dulu dengan zakat dan amal dimasjid sudah cukup. Jadi hari itu kami memutuskan untuk bersedekah bahan pokok untuk orang tidak mampu disekitar rumah, hasilnya posisi tidak bergeser tetap nomor 2.

Akhirnya istriku lolos di ujian selanjutnya yaitu SKB, di ujian kemampuan bidang ini kami berstrategi untuk tetap bimbel dan fokus latihan soal, karena di SKD aku merasa belum maksimal jadi selama sebulan penuh istri sengaja aku sarankan untuk karantina mengerjakan soal dan anak-anak aku yang pegang, untuk urusan makan tiap hari ibu mertua membantu delivery order alias diantar kerumah, jadi istri tidak memasak selama latihan soal, selain itu kita tetap puasa, berdoa dan sholat agar Allah SWT memudahkan semua urusan kita dan tak lupa amalan sedekah juga kita persiapkan sebelum ujian SKB.

Ada satu lagi, Akhir desember 2020 bapak meninggal dunia, dan selama ujian ini aku tidak bisa meminta bantuan doa yang selama ini aku lakukan, sejak dulu aku merasa termanjakan oleh doa dari orang tua, karena dihampir setiap kesempatan aku selalu meminta doa orang tua terutama bapak dan ibu, ada suatu amalan bapak yang cukup berat namun terbukti berhasil, setelah sholat tahajud bapak selalu membaca surat Al Ikhlas, An Nas dan Al Falaq dengan jumlah masing-masing 1000 hasilnya tiga kakak ku semua lolos PNS murni.

Setelah mengigat itu aku memberanikan diri untuk melakukan amalan almarhum bapak, setelah sholat tahajud aku tidak beranjak dan membaca amalan tersebut alhasil dihari pertama hanya Al Ikhlas yang sampai 1000 dan aku tertidur sebelum subuh, selanjutnya aku coba kembali hanya sampai surat An-Nas belum sampai seribu azan subuh telah berkumandang. Kesalahanku karena aku telat bangun setelah aku hitung butuh waktu 3-4 jam untuk mencapai target tersebut.

Setelah semua usaha dan amalan telah dilakukan, tibalah hari ujian berlangsung. Hari itu aku sengaja mengosongkan jadwal untuk mengantar ujian SKB istri, kebetulan ujian dimulai pukul 14.00 dan harus tiba dilokasi 1 jam sebelum, setelah mengantarkan istri ke lokasi ujian aku pergi dan duduk sambil berdzikir di alun-alun kota, hingga waktu sholat ashar tiba, karena ada masid dekat alun-alun aku segera bergegas untuk sholat ashar.

Sebelum sholat aku sempat mengecheck hasil ujian SKB secara online karena baik SKD dan SKB sekarang live skor, Alhamdulillah ada di posisi ke 15, setelah itu akupun sholat berjamaah dan selesai sholat aku berdoa pada Allah SWT menghadap ke dua kaligrafi besar bertuliskan Muhammad Rasulullah dan Allah SWT dan melakukan sujud dengan berdoa:

“Ya Allah sudah 11 tahun ikhtiar istri hamba tak ada yang bisa berkehendak selain Engkau dan Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung’

Entah mengapa hari itu tubuh terasa lega, ada kesejukan tak terperi, sore itu aku merasa tenang. Setelah selesai sholat aku menuju serambi masjid dan duduk melihat live score di posisi 15 aku kaget tidak ada nama istriku, aku coba scroll kebawah juga tidak ada hingga nama terakhir dan muncul nama istriku di posisi pertama dengan tulisan waktu telah selesai dengan skor yang jauh meninggalkan para pesaingnya bahkan selisih 100 poin dari peringkat 1 SKD, tak kuasa air mata ini menetes, aku melihat ke langit dan tersenyum seraya berkata

“ Terima kasih ya Allah”

Keyakinan kami membuahkan hasil, kami yakin Allah melihat apa yang kami perjuangkan dan kami yakin allah melihat tangisan kami di tahun 2017 dulu dan membayar tuntas di 2021.

Untuk kalian yang sedang berjuang percayalah sabar dan sholat adalah penolong dan Allah SWT sebaik-baiknya tempat meminta, semoga kisah ini menginspirasi.

INSPIRASI BAGI YG INGIN SUKSES DALAM KULIAH I Kisah CEO atau owner MENARA Indonesia

"Dulur" kata yang selalu diucapkan ketika menyapa teman-teman di Asrama Akper Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ali adalah sosok laki-laki sederhana.
"Kalau km enak dulur, punya saudara yang kerja di instansi pemerintah, kalau q gak punya" kata ali kepadaku, ali berasal dari sebuah tempat dipesisir lamongan yaitu paciran, walau berasal dari kampung tapi cita-citanya untuk kuliah luar biasa, q tahu dia berasal dari keluarga sederhana dan karena itu juga dia sadar bahwa dia harus menghemat kebutuhannya ketika kuliah, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan kuliah yang diberikan orangtuanya dengan susah payah.
"Aku puasa dulur" ucapannya ketika kami ingin mengajaknya makan diluar, q dan teman-teman sering makan malam bersama namun Ali tidak seperti kita karena dia memiliki penanak nasi dan cukup membeli lauk dipagi hari selebihnya dia Puasa.
Sama sepertiku untuk urusan kuliah dia rata-rata tapi untuk urusan organisasi dia jagonya, dia pernah menjadi ketua Osis, menjabat sebagai wakil presiden BEM, pengurus IMM, pengurus senat dan banyak lagi.
Kelebihannya dia bisa menggerakkan teman-teman dalam suatu even tanpa merasa tersakiti.
Lulus dari D3 dia bekerja sebagai perawat puskesmas uang hasil kerja dipuskesmas dia gunakan untuk melanjutkan kuliah S1 Keperawatan, setelah lulus Ali bekerja disalah satu Rumah Sakit milik pemerintah di Surabaya, bakat organisasinya tetap dia jalankan dengan mendirikan CV Menara Indonesia yang bergerak di Even Organizer (EO) seputar kesehatan mulai dari pelatihan motivasi, rumah luka, penulisan buku, kaos, makanan dan lain sebagainya, khusus pelatihan dalam setahun ali bisa mengadakan pelatihan 4-5 kali dengan ratusan bahkan ribuan peserta.
Berkat kerja kerasnya sekarang dia sudah memperoleh hasil dari apa yang dulu di cita citakan, rahasia suksesnya adalah prihatin terhadap kehidupan diri dan keluarga dengan menunda kebahagiaan.

Salut buat Ali Maghfuri
Direktur Menara Indonesia

[Kisah Inspiratif] Kesuksesan Berawal dari Pengorbanan

Kesuksesan Berawal dari Pengorbanan
Namanya Elis Buyung Suliyah atau biasa dipanggil Elis, dia berasal dari desa Ajung Kalisat, Rumahnya di Depan Gudang Beras Zebra, dia dibesarkan dari keluarga pas-pasan ayahnya seorang Guru dan ibunya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga sambil berjualan kripik singkong dan marning (jagung goreng) dirumahnya, ketika Elis sekolah dasar (SD) dia selalu membantu ibunya berjulan dengan membawa kripik dan marning ke Sekolah, dia tidak pernah merasa minder dengan berjulan disekolah walau terkadang dimarahi oleh tukang kebun disekolahnya, mungkin Elis dianggap kompetitor atau saingan karena Pak Kebun juga berjaulan kripik dikantin tapi karena banyak yang memesan dan laku keras Elis tetap menjualnya kesekolah, hasil jualan tersebut sedikit membantu perekonomian keluarga minimal dia tidak perlu uang jajan untuk pergi sekolah karena cukup mengambil dari hasil jualan tersebut, karena kebutuhan semakin-lama semakin meningkat sedangkan Elis memiliki dua adik yang harus sekolah akhirnya ibu Elis memutuskan untuk menjadi TKW keluar negeri dan dia diberi tanggung jawab untuk mengurus rumah dan dua adiknya yang masih kecil plus Ayah dan Nenek Elis yang juga berada dalam satu rumah dengannya, ketika itu usia Elis masih 15 tahun dan tetap masuk sekolah karena bagi dia pendidikan menjadi adalah yang utama jadi dia harus memutar otak untuk membagi waktu agar tanggung jawab yang diberikan dapat terlaksana dengan baik.

Namun setelah satu tahun ibu Elis pulang dan membawa modal yang cukup untuk membuka usaha warung lesehan dirumahnya, dari sanalah awal usaha miliknya dimana hanya Elis dan ibunya yang bekerja di warung tersebut, dengan disiplin membagi waktu Elis bekerja di Warung sepulang sekolah selebihnya ibunya yang standbye menunggui warung tersebut, Elis tetap menjalani usaha warung sambil sekolah dan tidak menghiraukan lelah atas usaha yang dilakukannya hingga lulus SMA di SMAN 1 Kalisat pada tahun 2005, bukan hanya warung, Elis mulai merabah jasa catering, berawal dari pesanan tetangga dan teman-teman di sekolahnya akhirnya dia mulai dipercaya untuk menghedle catering pernikahan di sekitar rumahnya, walau begitu dia tetap sekolah dan melanjutkan study ke DII PGSD di masa kuliah ini usahanya jatuh bangun, karena masa itu adalah masa ketika adik-adiknya mulai masuk SMP dan SMA sehingga butuh dana yang besar untuk biaya sekolahnya dan juga Elis tidak terlalu fokus karena harus membagi waktu kuliah dan bekerja namun dia tetap berusaha untuk menghidupkan warung tersebut sekuat tenaga.

Lulus DII PGSD dia menjadi tenaga sukarelawan (Sukwan), menjadi guru dan berwirausaha tetap dilakoninya selama 5 tahun hingga dia melanjutkan S1 PGSD dan sempat menjadi lulusan terbaik dikampusnya, sengaja tidak langsung melanjutkan karena dia masih mengumpulkan biaya untuk lanjut S1, setelah lulus dia tetap menjadi tenaga Sukwan yang kalau dihitung sudah 13 tahun lebih namun tetap konsisten membuka warung dirumahnya hingga akhirnya dia tidak bisa lagi membagi waktu karena warung dan catringannya makin lama makin dikenal masyarakat hingga ke luar Jember.
Diapun dilema ketika harus meninggalkan profesinya sebagai seorang guru, tapi keputusan haruslah dibuat dengan segala konsekwensi yang ada, walau berat hati akhirnya Elis memutuskan untuk berhenti menjadi guru dan fokus pada usaha warung dan catering yang dimilikinya, hingga saat ini “ Cahaya Catering” miliknya sudah dikenal masyarakat mulai dari Jember, Bondwoso, Situbondo dan lain sebagainya, hampir setiap musim pernikahaan catering miliknya selalu laris manis dan juga warung miliknya sekarang sudah cukup besar dengan fasilitas cafe, wifi area, karaoke, area nonton bareng dan segala fasilitas lainnya ditambah tempat yang cukup unik yaitu diatas bukit yang telah di modifikasi dan bukan hanya itu sekarang dia sudah mengambangkan Cahaya Catering sebagai Even Organiser pernikahan lengkap dengan dekorasi, sound system dan semua paket yang ada dalam suatu pernikahan dan bisnisnya sekarang sudah menghasilkan omzet puluhan juta rupiah.





Kholid Rosyidi MN

[Kisah Inspiratif] Kesenian Menjadi Pilihannya

Kisah Inspiratif
Cristian firmasyah atau lebih dikenal dengan nama Feri, dia Lulus dari SMA 1 Kalisat Tahun 2005 setelah lulus dia langsung bekerja sebagai pramuniaga atau pelayan Toko yang cukup dikenal alasan dia langsung bekerja karena tidak ada biaya untuk kuliah, entah tidak ada biaya atau dia sudah mulai lelah belajar karena aku tahu Feri berasal dari keluarga berkecukupan.
Bekerja sebagai pramuniaga dia lakukan dengan sabar, mulai dari menyapu, mengepel, mengelap kaca dan melayani pembeli tentunya, walau ada perasaan minder, tapi tetap dijalani dengan sabar karena dia sadar uang yang digunakan sepenuhnya untuk bertahan hidup meski gaji yang diterima tidak seberapa, Feri merupakan anak yang mendiri alis tidak bergantung pada orang tua walaupun pekerjaan tersebut tak sesuai dengan hati nuraninya tetap dijalaninya, akhirnya setelah satu tahun dia mendapatkan promosi jabatan menjadi seorang Merchandiser Display, yang ternyata tanggung jawab semakin berat dan Supervisor Feri kurang bersahabat dengannya, dia mencoba bersabar namun tiba waktunya ketika dia tidak bisa membendung amarahnya sehingga dia berkelahi dengan sang Supervisor plus mengundurkan diri dari pramuniaga di Toko tersebut.

Kurang lebih dua bulan Feri menganggur dan mulai kebingungan karena tidak ada pemasukan sama sekali, dia pun mulai bergaul dengan teman-teman sesama pengangguran di sekitar rumahnya yang ternyata menjurus pada kenakalan dan tindak kriminal, keadaan seperti itu berjalan selama dua tahun hingga akhirnya teman dari Feri berhasil ditangkap pihak berwajib, karena Feri khawatir menjadi korban selanjutnya akhirnya dia kabur ke Jakarta.
Di Jakarta Feri benar-benar menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulangi kenakalan dan tindak kriminalitas yang dijalaninya dengan bekerja serabutan, namun setelah 6 bulan dia pulang ke Jember. Pulang dari jember dia kemudian berpacaran dengan seorang perempuan tapi malang nasibnya terrnyata pacar Feri sudah mau dijodohkan orang tuanya namun Feri tahu jika pacarnya masih mencintainya dengan alasan tersebut Feri memberanikan diri untuk datang ke acara pertunagan pacarnya dengan semangat bagai film-film India.
Di acara pertunangan tersebut Feri tak segan-segan mendatangi ayah pujaan hatiya dan langsung menyatakan keinginannya untuk menikah dengan putri kesayangannya, tak pelak si Ayah marah dan akhirnya terjadi perkelahian antara Feri dan calon mertua hingga menyebabkan kue-kue yang ada disekitarnya tumpah dan menyulut ketegangan antar warga yang ada dilokasi tersebut.
Walau ayah perempuan tersebut bertindak kasar tidak sejengkal pun Feri mundur memperjuangkan cintanya bagai film Kabhi Khusi Kabhi Gham dia menyatakan cintanya di depan orang-orang yang ada diacara tersebut dan meminta pacarnya untuk memilih dia atau tuangannya dan ternyata sipujaan hati tetap memilih Feri, tidak sampai disitu keesokan harinya Feri membawa kabur perempuan tersebut dan menikahinya melalui wali hakim
Karena kelakukannya keluarga si perempuan melaporkan Feri ke Polsek tapi mujur masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan penengah dari pihak polsek.
Meskipun sudah menikah Feri belum memiliki pekerjaan, akhirnya istri mencoba peruntungan untuk bekerja sebagai penjaga etalase macam-macam asesoris dengan gaji 400 ribu rupiah dan Feri mencari pekerjaan sebagai penjual durian keliling.
Uang dari hasil jual durian dan gaji istri mereka sisihkan untuk persiapan kelahiran putra pertamanya tapi ternyata persalinan yang dilakukan sang istri tidak membutuhkan biaya sepeser pun alias gratis. Setelah istri melahirkan putra pertama, Feri menggantikannya untuk berjualan asesoris dan berhenti menjual durian karena sudah tidak musim lagi.
Awalnya Feri sempat frustasi karena gaji dari assesoris tidak mengalami perubahan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti acara dzikir dan ngaji bersama tiap malam jumat untuk menenangkan hati dan setelah itu dia melihat dan mulai tertarik pada kesenian jaranan.
Awalnya Feri merasa senang melihat pertunjukan jaranan dan mulai mencoba untuk mempelajarinya dari awal dengan ikut salah satu grup di desannya, karena memang Feri memiliki bakat menari jadi dia kelihatan menonjol digrupnya, bagaimana tidak dulu waktu SMA kelas 3 aku pernah melihat dia menari breakdance dengan memperagakan gerakan bboy yang merupakan gerakan paling sulit breakdance. Akhirnya dia tidak boleh lagi bergabung di grup jaranan tersebut.
Tidak puas dengan itu akhirnya Feri memutuskan untuk membuat grup jaranan sendiri dengan nama PUTRA SAKTI, dia mulai mempelajari gerakan dan mendisain sendiri baju jaranan miliknya dengan modal seadanya dan mengajak teman-teman yang senasip dan sevisi dengannya, Feri kemudian membuat koregrafi yang original, lucu dan cukup extreame sehingga jaranan milik feri mulai di kenal kemudian sedikit demi sedikit akhirnya dia bisa membeli gamelan dan peralatan jaranan lainnya
Setelah dua tahun Feri mulai berfikir jika kesenian jaranan ini adalah passionnya dia pun memantapkan hati untuk terus menekuni kesenian ini dengan inovasi yaitu menggabungkan kesenian jaranan dengan Reog alasannya kesenian Reog di Jember utara masih belum ada yang mengembangkannya, akhirnya dia membuat dadak merak sendiri meskipun tidak sama persis, perjuangan membuat dadak merak itu pun tidak mudah karena harus mencicil selama 1 tahun dari hasil pertunjukan karena untuk mengumpulkan bahan cukup mahal dan setelah itu Feri menyadari kalau dia bisa hidup dari kesenian dan kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil dengan mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata Pemkab Jember, grup miliknya mendapatkan bantuan dana sehingga dia bisa membuat dadak merak satu lagi, hingga saat ini PUTRA SAKTI sudah memiliki 4 dadak merak.
Tidak sampai disitu saja Dewan Kesenian Jember DKJ memberikan fasilitas untuk akses pertunjukan keluar jember sehingga PUTRA SAKTI bisa tampil diluar kota Jember sampai di gedung kesenian Cak Durasim Surabaya hingga saat ini PUTRA SAKTI menjadi salah satu grup jaranan terbaik di kota Jember dengan tarif jutaan rupiah sekali tampil.
Bukan hanya itu Feri juga mengembangkan bisnisnya untuk berjulan distro baju-baju dan asesoris jaranan plus menyewakan properti jaranan.
Berikut kalimat kesuksesan yang dimiliki Feri
Hidup itu simple cukup berdoa dengan penuh keyakinan, berusaha dan syukuri apapun hasilnya insya allah rejekimu akan lancar, tak perlu ambisi karena itu akan menjatuhkanmu.


Kholid Rosyidi MN

[Kisah Inspiratif] Guruku Kebanggaanku

Namanya Esti Novida Frianti, biasa dipanggil Esti, dia adalah sahabatku, teman masa kecilku, dari kecil kita selalu bersama mulai dari sekolah bermain atau pun nonton tv, dia juga teman mengaji dan ketika mengaji di madrasah aku dan dia adalah anak yang susah diatur jadinya kami berdua tinggal kelas, di sekolah dasar kita tetap bersama walaupun berbeda sekolah, persahabatan kita berlanjut ke masa SMP dan SMA, sebenarnya Esti dan aku adalah saudara karena kakekku dan nenek esti adalah saudara sepupu mungkin itu juga salah satu faktor kenapa aku dekat dengannya.

Esti itu tak cantik karena dulu rambutnya kriwul, dia juga bukan siswa yang pintar namun dia special bagiku, dia memiliki perilaku yang sangat aku senangi, dia adalah pendengar yang baik dan suka bercanda, ternyata bukan cuma aku yang suka dengan peringainya, banyak teman-teman yang menyukainya, dia selalu paham apapun masalah yang aku dan teman-teman miliki.

Inspirator di harian Barnas Yogyakarta

Satu bulan yang lalu, saya mendapatkan inbox dari staf redaksi harian barnas Yogyakarta, dia menginginkan saya untuk menjadi tokoh inspiratif dikoran tersebut mungkin ini salah satu dampak dua buku motivasi yang saya gratiskan beberapa waktu yang lalu, seperti biasa saya welcome dengan apapun yang berhubugan dengan kisah inspirasi, motivasi dan pastinya bermanfaat bagi orang banyak, singkat cerita staf tersebut memberikan saya daftar pertanyaan yang harus dijawab dan saya menjanjikan untuk menyelesaikannya satu minggu kedepan, maklum lagi banyak kerjaan dikampus.

kholid rosyidi muhammad nur

            Iseng saya coba check harian barnas itu apa sih, kok terasa familiar. Ternyata setelah saya check barnas merupakan salah satu koran terlama dan tertua di Indonesia reputasinya pun sudah nasional dan tahun ini saja sudah berusia 70 tahun, jadi merasa bangga dan beruntung bisa menginspirasi di Koran tersebut, karena sebelumnya saya pernah mengisi satu halaman penuh inspirasi di jawa post tepatnya radar jember dengan judul Dosen Yang Produktif Bikin Karya Ilmiah pada tanggal 29 Desember 2013 dan hari senin tanggal 8 Mei 2017 kemarin harian barnas memuat kisah inspirasi saya dengan judul Sosok Yang Selalu Bekerja Keras DalamMencapai Impian.

[Kisah Inspiratif] Sukses Sebagai Agen Properti

Namanya Alex Triawan, dia adalah anak ke tiga dari empat bersaudara, papanya meninggal ketika dia masih kelas 1 SMP, disitu dia menjadi kepala keluarga karena kedua kokonya tinggal diluar kota, pulang sekolah dia selalu membantu mamanya di toko, Setelah lulus SMAN 1 Kalisat tahun 2005 dia memutuskan untuk kuliah di Sebuah Akademi Perhotelan (D1) di Surabaya. Pertimbangan selain biaya yang relatif murah dan jangka waktu kuliah yang pendek alasan lain dia ingin cepat bekerja, selain itu dia agak malas kuliah, dia juga bercita-cita keliling luar negeri sambil bekerja, menurutnya lulusan Akademi Perhotelan bisa bekerja di kapal Pesiar dengan gaji yang cukup fantastis. Alex mengambil kuliah malam agar siang harinya dia bisa kerja di expedisi milik saudaranya di Surabaya untuk tambahan biaya kuliah.
Setelah satu tahun berlalu dia mendapatkan kesempatan lolos seleksi OJT (On Job Training) di Singapura selama 6 bulan.. Disana dia training di sebuah resto Jepang (Ajisen Ramen) salah satu resto besar di Singapura.
Setelah menjalani training selama 6 bulan .. 2007 Alex kembali ke Surabaya dengan harapan bisa melanjutkan cita-citanya untuk bekerja di kapal pesiar (Star Cruise waktu itu).
Namun ditengah proses meraih impian tersebut banyak faktor yang membuat dia memutuskan untuk tidak bekerja di kapal pesiar.


Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan pialang sebagai broker valuta asing.. dia menjalani pekerjaan sebagai broker hanya dua tahun saja (2007-2009) karena resiko yang terlalu besar, "jika advise dia salah akan menimbulkan kerugian bagi kliennya dan dampaknya juga kepadanya" kata Alex, seperti moto broker valuta asing tersebut "High Risk High Return" akhirnya dia memutuskan untuk berhenti.. Kemudian dia ditawari sebagai AM (Agency Manager) di perusahaan asuransi, tapi hanya bertahan selama satu tahun di bisnis asuransi tersebut dikarenakan krisis global... Sehingga Alex kembali memutuskan bekerja di kantor expedisi milik saudaranya sebagai Marketing. Tahun 2010-2011 dia menjalani hubungan serius dengan wanita yang sekarang jadi istrinya. 2011 bulan November dia menikah. Setelah menikah dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut dengan maksud ingin mandiri dan berwiraswasta ...
Ternyata dari sinilah awal petualangan hidupnya..

[Kisah Inspiratif] Proses Tidak Akan Menghianati Hasil

Kapten Cba Ferry Herdiyanto atau biasa dipanggil Ferry adalah Anak ke tujuh dari sepuluh bersaudara Tidak ada yg istimewa dalam keluarganya, sama seperti keluarga yg lain pada umumnya, hanya saja keluarga Ferry lebih mengedepankan kedisiplinan karena Pekerjaan orang tuanya adalah pensiuan TNI. Kedisiplinan orang tua Ferry dituangkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pergaulan, aktifitas sehari-hari dan lain sebagainya, namun yang paling penting dia dididik untuk mendapatkan sesuatu itu perlu usaha, keringat, pengorbanan dan doa...banyak hal yg harus di korbankan untuk mewujudkan cita-cita itu yang paling diingat olehnya.


Semasa sekolah di SMAN 1 Kalisat dia jg sama dengan kebanyakan anak-anak SMA lainnya tidak ada yg menonjol dari segi prestasi bisa dikatakan dia anak rata-rata..tapi mungkin tekad dan kemauan dia yang membedakan dengan yang lain, .. tapi siapa sangka dia memiliki cita-cita masuk Taruna Akmil, sekolah bergengsi dengan seleksi yang cukup ketat dan hanya segelitir orang diseluruh Indonesia yang dapat lolos seleksi, tidak banyak orang tahu akan cita-citanya itu, yang aku tahu Ferry cukup disiplin dalam olahraga, mungkin karena dia tahu betul syarat untuk menjadi taruna Akmil adalah sehat secara fisik, mental dan kecerdasan pastinya, untuk dia mengambil jurusan Ilmu pengetahuan alam (IPA) dan tekun belajar untuk selalu mendapat nilai minimal tujuh di semua mata pelajaran, untuk itu dia ikut ekstrakurikuler yg masih ada kaitannya dengan mata pelajaran seperti bahasa inggris dan matematika karena disekolah kita ada ekstra tersebut selain ekstra yg lain dan perlu diketahui ekstra bahasa inggris dan matematika kebanyakan diikuti oleh siswi perempuan tapi Ferry tidak peduli.

[Kisah Inspiratif] Perjalanan Seorang Polisi

Erwan Triambodo, Lahir di Kota Jember Jawa Timur merupakan anak perantauan dari kedua orang tuanya yang bekerja sebagai Guru SD berasal dari Kota Tulungangung dan Trenggalek tepatnya di Kec. Munjungan yang saat ini tinggal di Kab. Sumbawa Barat Prov. NTB, tidak pernah merubah sikap dan rasa kekeluargaannya terhadap teman-teman semasa dia menimba ilmu pendidikan SD, SMP, dan SMA. Namun dikarenakan Perbedaan jarak, membuatnya jarang bisa berkumpul bersama teman-teman alumni sekolah. Akan tetapi dikala ia pulang kampung, dia pasti menyempatkan diri untuk berkumpul dan menemui teman-temannya di daerah Kalisat dan Sukowono. Panggilan kecilnya dikampung “WAWAN”. Akan tetapi waktu SMP, saat perkenalan siswa baru di kelas, ada salah seorang teman yang nyeletuk “gak cocok namanya WAWAN, BODO saja”, dengan gelak tawa siswa-siswi akhirnya dia lebih akrab dipanggil “BODO”. Saat SMP nama Bodo menjadi dikenal siswa-siswi SMP 1 KALISAT apalagi setelah dipercaya untuk mementaskan peran sebagai “DALANG” drama Pewayangan dengan Lakon “GANYONG” pada acara perpisahan sekolah. Dan Drama tersebut juga dipentaskan kembali di Pasar Kalisat saat acara malam Kemerdekaan RI sehingga mengundang gelak tawa penonton dikarenakan cerita lawakan Pewayangan yang Kocak.


Dia pendiam namun memiliki Hobi menyanyi selain itu juga bodo menjadi Vocalis Band SMP dan SMA. Meski tak terlalu pintar saat mengenyam pendidikan SMP ditambah hobi bermain PS (Play Station) yang tak kenal waktu hampir membuatnya tidak bisa sekolah di SMA favorit (SMAN 1KALISAT) karena NEM yang pas pasan sehingga dia berada dalam 10 siswa dengan nilai NEM terendah alias cadangan yang belum pasti diterima di SMAN tersebut walaupun Kuota siswa yang diterima sebanyak 240 yang kemudian terbagi menjadi lima Kelas. Namun setelah adanya pertimbangan penambahan bangku Siswa, Alhamdulilah Bodo dinyatakan lulus dan bisa bersekolah di SMAN 1 KALISAT. Ia mempunyai strategi agar bisa bersaing dalam hal prestasi dengan siswa yang lain, yaitu dengan cara mencuri perhatian guru-guru pengajarnya saat proses belajar mengajar berlangsung dengan cara bertanya dan aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler disekolah. Dengan usahanya tersebut dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA, dia selalu masuk ranking 10 besar dikelasnya.

[Kisah Inspiratif] Akhirnya dia jadi Dosen

Iqbal Erdiansyah, SP, MP biasa dipanggil Iqbal, Jangankan untuk menjadi seorang dosen, bekerja saja mungkin tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang disekitarnya, meskipun dia hidup serba kecukupan namun dia menjalani hidup sesuka hatinya, manja dan belajar berada diurutan terakhir menurutnya, dia gemar sekali nonton TV, jalan-jalan dan aktifitas membuang-buang waktu lainnya apalagi urusan makan karena saya teman kulinernya..he, dulu ketika SMP dia berada dikelas bukan unggulan bahkan dia berada di kelas terbawah, nilainya pun dibawah rata-rata, begitu juga ketika sekolah di SMAN 1 kalisat, malasnya tetap tidak berubah, sering terlambat dan tidak mengerjakan PR menjadi masalah utama pada dirinya, hukuman dari guru tidak membuatnya jera.

[Kisah Inspiratif] Anak Kampung Jadi Chef

Emil Syahril Araniri, dia lahir dari keluarga sederhana, anak ketiga dari tiga bersaudara, ayahnya bekerja sebagai supir truk dan ibunya pedagang kue keliling walau begitu dia tetap bisa melanjutkan sekolah hingga tamat SMA dan kebetulan satu sekolah denganku SMAN 1 KALISAT, walaupun dia sempat iri dengan saudaranya yg lain karena mereka disekolahkan sampai sarjana, alasannya ketika dia tamat SMA ayahnya sudah sakit sakitan dan membutuhkan biaya yg cukup besar di sisi lain Emil tetap berambisi untuk kuliah namun apa daya dan dia memilih untuk mendaftar jalur militer tapi gagal mengikuti tes AKPOL dan AKMIL walau sudah coba 5 kali malah memperparah sakit ayahnya karena terbebani memikirkan cita-cita yang belum tercapai, namun dia tidak menyerah dengan keadaan, walau tidak sehebat saudara-saudara yg sudah menjadi akuntan dan polisi di Bali dan NTB, Emil ingin mandiri dan kuliah dari hasil usahanya sendiri, kemudian dia mengambil keputusan dramatis untuk merantau dan pamit kepada ayah ibunya untuk menjadi seorang santri di salah satu pondok pesantren cita-cita lain yg diinginkan orang tuanya....sebenarnya dia berbohong pada ibu dan ayahnya alasan itu dikemukakan agar orang tuanya tidak khawatir dengannya.
Dia hendak merantau tanpa arah tujuan di Stasiun Kalisat, aku kenal betul tabiat sahabatku ini, dia orangnya nekat tanpa perhitungan, di Stasiun dia bingung hendak mengikuti arah kereta ke timur ataukah ke barat namun setelah fikir dengan matang dia memilih naik kereta api jurusan banyuwangi sebab daerah timur sudah tidak asing baginya..entah mengapa dia ingin ke Nusa Tenggara Timur (NTB) ke tempat kakaknya....namun setelah sesampai di salah satu terminal di Bali dia teringat pesan ayahnya "jangan pulang sebelum kamu mandiri dan jangan pernah kamu menyusahkan orang sekalipun itu saudaramu"....dia langsung membatalkan keinginannya ....dan memilih untuk bekerja serabutan dengan prinsip "yg penting halal" mulai menjadi pemulung, bangunan, nelayan di benoa, hingga kenek truk antar provinsi sampai daerah Bima NTB....dengan bekerja dia bisa menabung dan waktu itu dia berencana pulang kampung sebab sudah setahun merantau.......dia pun pergi ke wartel ba'da magrib untuk mengabari keluarga kalau dia ingin pulang ke Kalisat tapi setelah dia menelfon dan berbicara dengan ibunya..ini Emil ya??... iya ibu....awalnya penuh rasa bahagia dan semangat karena selama satu tahun dia tidak berkomunikasi dengan keluarganya...namun di telpon dia mendengar gemuruh orang mengaji, diapun bertanya, kenapa begitu banyak suara orang mengaji di rumah? Ternyata ayahnya sudah meninggal dan hari itu adalah 40 hari kematiannya ....Emil langsung teriak histeris didalam wartel dan di amankan warga serta pemilik wartel di daerah Bima, sempat dia di kira orang kurang waras tapi setelah dia cerita kronologis permasalahannya warga pun mengerti dan prihatin dengan keadaanya, keesokan harinya warga inisiatif untuk mengantarkan Emil pulang dengan ikut truk tujuan Bali.......namun ditengah perjalanan dia ketinggalan truk........beruntung dia berjumpa dengan mobil polisi meski awalnya dianggap maling sapi, Lantas dia menjelaskan keadaannya dan ingin ke kota Sumbawa untuk mampir dirumah kakaknya, kebetulan polisi tersebut mengenal kakak Emil.....sesampai di Sumbawa dia bertemu kakaknya dan memutuskan untuk menjadi santri di surau Darul Tauhid Sumbawa selama setahun sekaligus mendapat kesempatan belajar ilmu agama di Darul tauhit pusat di Medan.......di Medan dia di tempa sebagai santri.....namun setelah lulus saya di ajak bekerja oleh satu anggota santri yg membuka usaha ayam Lamongan di Medan dan dua tahun saya tekuni pekerjaan sebagai tukang masak ditempat tersebut, suatu ketika ada pengusaha hotel dan perkebunan kelapa sawit yg makan di warung kecil itu dan suka dengan masakannya orang tersebut menawarkan emil untuk bekerja di hotel milik pengusaha tersebut di Malaysia dengan memberikan kartu nama padanya.
Akhirnya Emil putuskan untuk merantau ke Malaysia mencari hotel dan alamat pengusaha tersebut akan tetapi sesampainya di Malaysia dompet yg berisi alamat dan nomor hp owner tersebut hilang..dan dia menggelandang di Malaysia..... Namun berkat pertolongan seseorang pemilik restoran di Malaysia dia di berikan pekerjaan sebagai tukang cuci piring, singkat cerita sang owner mengetahui kalau Emil bisa memasak dan menyuruhnya untuk menjadi tukang masak di restoran tersebut, karena banyak pelanggan yg suka masakannya, dia di rekomendasikan oleh owner untuk menjadi Chef de Party dan mendapat beasiswa karyawan kuliah di Akademi pariwisata di Medan sambil bekerja sebagai chef di cabang Medan milik owner tersebut...hingga saat ini dia telah bekerja di berbagai hotel berbintang mulai dari Aceh, Medan, Sulawesi dan Kalimantan dan juga sempat menjadi Chef di kapal pesiar mewah American Royal Carribean. Emil tetap percaya pada kerja keras dan keberanian untuk mewujudkan cita-cita, dia selalu bersyukur pada Allah SWT atas karunia yang diberikan dan itulah rahasia kesuksesannya, semoga bermanfaat.

[Kisah Inspiratif] Penjaga Palang Pintu Kereta Api

Namanya Ari Wibowo atau biasa di panggil Ari, dia adalah teman SMPku, anaknya cukup sederhana, tapi semangatnya luar biasa, lulus SMA karena tidak memiliki biaya untuk kuliah dia merantau ke Bali dengan tujuan bisa membantu orang tua yang hanya bekerja sebagai buruh tani, dia anak pertama dari enam bersaudara. Di Bali dia bekerja serabutan mulai dari kuli bangunan, loundry dan tukang antar air minum isi ulang, ijasah SMA baru dia gunakan setelah tinggal 1,5 tahun di Bali, dia bekerja di salah satu perushaan ikan tuna, namun karena gaji masih minim dan hanya cukup untuk biaya hidup dan kost, dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut, kemudian bekerja di salah satu bungalow masih di Bali tepatnya di daerah Sanur, pekerjaan kali ini memberikan gaji lumayan tapi hati masih kurang nyaman bekerja disana, Aku tahu dia muslim yg taat dan menghindari apapun yg dilarang oleh agamanya. 
Akhirnya dia kembali bekerja sebagai kuli bangunan, pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra itu ditekuninya dengan sabar dan tak lupa sholat 5 waktu tetap dikerjakannya, bermodal sabar dan kepercayaan akhirnya usahanya berkembang ke kota-kota lain seperti Lombok, Bima, Sumba dan Sumbawa bahkan dia pernah mendapat tawaran bekerja di India untuk membuat rumah orang Bali yang menetap di sana, namun karna tidak mendapat restu orang tua akhirnya dia mengurungkan niat tersebut, merasa bosan dengan indonesia bagian timur dia mencoba peruntungan ke daerah Sumatra tepatnya di kota Lampung, dengan bekerja sebagai pencari rumput ilalang yang di kirim ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Bali. Lagi-lagi dia tidak betah disana, 3 bulan kemudian Ari kembali lagi ke Kalisat dan mengangur, kemudian dia mendapat tawaran dari teman untuk ikut ke Kalimantan bekerja sebagai penjual pentol (cilok), namun pekerjaan tersebut hanya bertahan 3 bulan, akhirnya dia kembali ke Kalisat dan menganggur cukup lama, 
Setelah sekian lama merantau dia mulai berfikir sampai kapan seperti ini, karena menurut dia seenak-enaknya bekerja di negeri orang masih lebih enak bekerja di negeri sendiri. Hingga akhirnya dia bertunangan untuk meredam keinginan bekerja keluar Kalisat, namun karena di Kalisat dia tak kunjung mendapat pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depannya dia memutuskan kembali ke pulau Bali selama 1 tahun, hingga akhirnya dia pulang dan menikah. Tapi setelah beberapa minggu menikah dia masih menganggur dan muncul keinginan untuk merantau kembali namun istri melarangnya, dia tetap berdoa dan pasrah pada Allah SWT, akhirnya dia mendapat tawaran bekerja perusahaan jasa tranportasi masal (PT KAI) di Jember jawa timur sebagai tenaga harian, alhamdulillah unit yang dia tempti sesuai dngan keahliannya di bidang bangunan dan atasannya cukup peduli dengan pekerjaannya hingga dia biasa memegang proyek di perusahaan tersebut, ketika ada lowongan untuk menjadi pegawai outsourching disana dia mendapat rekomendasikan dari atasannya, sehingga dia bisa masuk tanpa melalui serangkaian test yang ada, dia di tempatkan sebagai koordinator outsourching yang membawahi 40 pegawai. 
Kemudian dia mencoba mengikuti seleksi pegawai organik (tetap) di perusahaan tersebut dan seleksi untuk masuk memang terkenal ketat, Serangkaian test jalur internal dan eksternal dia lalui untuk menjadi pegawai tetap namun tidak lolos sampai 4 kali gagal. Namun dia tetap mencoba hingga test ke 5 jalur internal meskipun dia tempuh dengan rasa pesimis karena pengalaman gagal berulang kali, tapi dia tetap menjalaninya dengan berdoa dan pasrah pada Allah SWT, akhirnya dia dinyatakan lolos melului jalur tersebut tanpa harus menjalani masa PKM (magang) sekarang Ari ditempatkan sebagai petugas palang pintu Kereta api di daerah Ajung Kalisat. Sejak saat itu dia sadar bahwa Allah SWT memberikan riski bukan karena dia menginginkannya tapi karena dia membutuhkannya dan dia bersyukur saat ini dia bisa membantu orang tua dan bekerja dekat dengan keluarga.