-->

Baca Yuk !!

Showing posts with label Kupanggil Dia Ners. Show all posts
Showing posts with label Kupanggil Dia Ners. Show all posts

Kupanggil dia Ners Eps 5 - Raja Lomba, Petualangan Tim Ilmiah Penuh Ambisi

Jadi ceritanya, aku dan Ners Rian—si dosen penuh strategi dan ambisi ala manajer tim F1—bersekongkol membentuk tim super untuk menjelajahi dunia per-LKTI-an (Lomba Karya Tulis Ilmiah) seantero Indonesia. Tim ini bukan kaleng-kaleng, dibagi jadi tiga regu dengan misi suci: ikut lomba sebanyak-banyaknya demi menambah jam terbang, pengalaman, dan tentu saja... piala buat dipajang di ruang UKM (biar keliatan keren, ya kan?).

Setiap ada lomba, langsung gas! Mulai dari essay, poster, riset, sampe karya ilmiah yang bikin kepala cenat-cenut, kami kirim semua. Tapi tenang, bukan cuma kirim doang, habis itu selalu ada sesi evaluasi bareng Ners Rian—alias rapat yang isinya kritik pedas tapi penuh kasih. Pokoknya vibes-nya kayak MasterChef, cuma bedanya kita gak masak, kita debat struktur kalimat dan validitas data.

Di Jepang ada filosofi hidup keren yang namanya Kaizen, alias perbaikan terus-menerus. Nah, kami juga Kaizen versi kampus—tiap lomba kalah? Evaluasi. Menang? Tetep evaluasi, biar makin jago.

“Target kita harus bisa ngalahin kampus-kampus besar itu!”
– Ners Rian, dengan tatapan tajam seperti Naruto sebelum jadi Hokage.

Dan boom! Satu per satu piala datang. Juara III LKTI di Universitas Padjajaran. Juara II Literature Review di UGM. Juara II Esai Ilmiah di UNJ. Tapi belum pernah juara 1 karena juara satu dan dua selalu kampus besar itu. Sampai akhirnya, the final boss datang juga: Scientific Competition di Universitas Udayana, Bali. 


Ini bukan lomba kaleng-kaleng. Ini juga laga pamungkas karena Mas Aris, senior sekaligus panutan kami, bakal lulus dan ninggalin medan perang LKTI demi skripsi yang melelahkan. Jadi, formasi kami: Mas Aris (senior), aku (pejuang tangguh), dan adik tingkat (calon pewaris tahta lomba). Persiapan? Gila-gilaan. Riset? Tajam. Presentasi? Sampai latihan lebih dari 4 kali. Bahkan penampilan kami dipoles sampai kayak presenter berita.

“Ayo, Ris! Kita harus bisa ngalahin mereka kali ini!”
– Ners Rian, dengan semangat membara kayak abis minum 3 gelas kopi.

Dan akhirnya… kami lolos ke top 10! Tiket ke Bali di tangan! Presentasi dijalani dengan penuh gaya dan percaya diri. Dan hasilnya... JUARA 1, mengalahkan tim-tim dari Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada! Yes, UI dan UGM akhirnya kami tundukkan dengan kekuatan riset dan power point ber-animasi kece.

Kegirangan? Jangan ditanya. Kami langsung share kabar bahagia ini di grup WA, lengkap dengan stiker-stiker lebay dan spam emot. Tapi yang paling bikin puyeng bukan pialanya, melainkan pesan terakhir dari Ners Rian:

“Oke, selanjutnya kita harus juara di Asia.”


Kupanggil dia Ners. Eps 4 - Ners Rian: Dosen, Pembimbing, dan... ?

Sebagai ketua UKM NSC, aku sering banget harus berkomunikasi dengan Ners Rian. Jujur, aku agak berat tapi juga senang waktu tahu beliau jadi pembina kami—kupikir bakal dapat banyak masukan visioner. Namun, ekspektasi langsung remuk di pertemuan pertama.

Ners Rian kami biasa memanggilnya adalah panggilan dari dosen kami yang Bernama Endrian Fandi Kurniyawan, MNS. Beliau adalah lulusan Master of Nursing dari luar negeri, tepatnya Thailand, negara tetangga yang bikin kita gemas tiap AFF Cup berlangsung. Kalau timnas kita kalah, biasanya disalahin pelatih, pemain, atau bahkan rumput stadion, tapi Ners Rian? Dia santai aja, mungkin karena sudah kebal drama bola. Hari itu aku menghadap beliau di ruangannya.


“Permisi, Ners.”

“Ya, duduk saja,” jawabnya tanpa menoleh, tetap sibuk mengetik.

Aku jelaskan panjang lebar tentang proker, undangan kompetisi, hingga rencana jangka panjang UKM. Setelah selesai, aku berharap ada diskusi seru atau setidaknya saran konstruktif.

“Ya, atur aja. Kalau perlu tanda tangan, kasih sini.”

Hah?! Selesai? Kok lebih simpel dari daftar belanja bulanan? Saat kutanya lagi, harap-harap cemas, jawabannya tetap santai.

“Gak ada, udah bagus.”

Merasa ada yang “unik” dengan gaya pembimbing ini, aku mulai memperhatikan perilakunya. Selama mengajar, beliau disiplin soal waktu, tapi metode mengajarnya bikin mahasiswa bingung—kadang super cepat, kadang lambat sambil bercerita tentang alien atau teori konspirasi. Kalau suasana kelas mulai ramai, beliau cukup bilang, “Apa kita akhiri aja kelasnya?” Seketika, hening.

Penampilannya juga unik. Kadang lupa pakai sabuk, kemeja sering keluar seperti model dadakan, dan pernah tidak melepas jaket karena hanya memakai kaos oblong di dalam. Tapi yang paling bikin mahasiswa gagal paham adalah “ritual” sebelum kuliah: beliau selalu memulai dengan doa dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pertama kali, kami semua bengong.

“Siapa yang biasa jadi dirigen waktu upacara?” tanyanya.

Saat salah satu teman maju, beliau memberi aba-aba, “Hiduplah Indonesia Raya, tiga... empat!”

Kami bernyanyi dengan canggung sambil menahan tawa. Lama-lama, tradisi ini jadi hal yang kami tunggu-tunggu karena semangat Ners Rian begitu membara, seperti timnas baru menang 5-0 lawan Thailand.

Ners Rian ternyata bukan cuma dosen—dia juga YouTuber! Ketika teman-teman sekelas membagikan video beliau menyanyi di tengah sawah, aku cuma bisa menghela napas panjang. Lagu dengan tema patah hati, lengkap dengan efek cinematic, serius sekali digarap. Tapi kalau soal video vlog-nya? Jangan tanya, isinya campur aduk antara alay, absurd, dan “entahlah.”

Tidak cukup sampai di situ, saat acara UKM musik, beliau tampil membawakan lagu miliknya sendiri. Wajahnya begitu ceria, melompat ke sana kemari seperti anak kecil yang baru dibelikan es krim. Tiba-tiba, teman-teman sekelas mulai memanggilku, “Eh, itu bapakmu ya?”

Aku cuma bisa menahan malu dan tersenyum getir.

“Bapakmu” ini mungkin aneh, tapi jujur, hidupku di kampus jadi lebih berwarna sejak ada beliau. Siapa lagi yang bisa bikin kelas terasa seperti perpaduan seminar, konser, talk show motivasi dan tausiyah.

Kupanggil dia Ners – Eps 3. Juara, Tapi Tetap Kena Omel!

Event nasional Basic Nursing Science Competition (BNSC) di Fakultas Keperawatan kami ini adalah kali pertama aku dan teman-temanku ikut kompetisi sebesar ini, ada cerdas cermat, ada LKTI, seminar serta conference khusus mahasiswa. Acara ini dikuti oleh jurusan keperawatan seluruh Indonesia. Awalnya merasa pesimis namun aku tetap meyakinkan diri untuk mengikutinya walau dengan usaha yang tak kenal Lelah menghubungi para senior akhirnya tim ini terbentuk. Kolaborasi ini cukup unik, karena aku mahasiswa angkatan 2016 harus berpartner dengan kakak tingkat angkatan 2014, yang sudah cukup senior dan banyak pengalaman. Kakak tingkatku ini bahkan pernah jadi finalis di ajang nasional di Makassar. Ners Rian bilang “Regenerasi” Dengan bekal cerita heroiknya itu, karena itu aku optimis bakal membawa pulang piala. Target kami? Juara satu, tentunya! Angkatan 2014 adalah salah satu generasi emas kami karena mereka bisa lolos Pimnas dan memperoleh mendali. Selebihnya angkatan dibawahnya masih puasa gelar.


Kami dibimbing oleh Ners Rian sesuai dengan kemauanku setelah mendengar cerita dari Mas Aris. Ternyata benar kata mas aris beliau seorang pembimbing yang lebih mirip motivator sekaligus "stand-up comedian." Beliau punya dua mode: serius yang bikin merinding atau lucu yang bikin semua orang lupa kalau sedang stress. Dari awal, beliau selalu bilang, “Kita ini tuan rumah! Kalau nggak menang, malu dong!” Kalimat itu sukses jadi soundtrack harian kami selama persiapan.

Proses pembuatan manuskrip penuh drama. Ners Rian sering whatsapp tiba-tiba memanggil kami keruangannya untuk membaca draf kami, lalu berkata dengan nada super tenang, “Ini bagus... buat ditempel di kulkas.” Bayangkan perasaan kami! Tapi beliau nggak pernah tinggal diam, selalu ada masukan yang bikin kami mengelus dada sekaligus termotivasi. “Coba presentasi” di presentasi pertama dia bilang “5 besar saja gak masuk kalau seperti ini”. Dia optimis akan masuk 10 besar.

Dia menyarankan kami untuk membuat time schedule waktu sehingga presentasi yang biasanya diberikan oleh panitia selama 10 menit itu bisa tepat atau selesai tepat waktu. Kami tidak boleh membaca slide karena slide hanyalah point-point yang perlu dikembangkan dari pemikiran kami jadi kami harus paham sekali apa yang telah kita buat.

“Pertahankan kontak dengan audien agar kalian tampak menguasai materi yang disampaikan dan bacalah sesekali power point itu.”

Tantangan untuk paham itu cara satu-satunya adalah membaca manuscript yang kita buat berulang-ulang walau Lelah tapi tetap kami jalani untuk hasil sempurna. Hanya aku yang tak lancer presentasi sendangkan para senior dengan lincah dan tenang menyampaikan hasil penelitian ini dihadapan beliau.

Benar ketika akhirnya kami diumumkan masuk 10 besar, suasana jadi horor. Di satu sisi senang, tapi di sisi lain tekanan meningkat. Aku sempat mimpi buruk tentang presentasi—entah kenapa di mimpi itu aku malah tampil di acara kawinan. Untungnya, Ners Rian tetap jadi penghibur. Setiap kali kami panik, dia akan bilang, “Kalau gugup, bayangin aja kalian lagi jualan bakso di depan juri atau pikirkan hal remeh yang membuat kalian tenang. Biar santai.”

Tapi satu minggu sebelum kami tampil ada pergantian pembimbing Dimana Ners Rian di tunjuk sebagai Juri dalam lomba tersebut dan tidak diperkenankan menjadi juri sekaligus pembimbing jadi mau tidak mau kami harus mecari pembimbing lainnya.

Hari presentasi tiba, dan kami tampil penuh percaya diri (atau setidaknya berpura-pura percaya diri) karena kita harus tampil dihadapan hampir 1000 peserta seminar dan lomba yang hadir diaula. Kakak tingkatku tampil seperti veteran perang dan kami presentasi bergiliran sesuai time schedule yang telah kami buat, sementara aku hanya bisa berharap nggak membuat kesalahan fatal. Presentasi berjalan lancar—atau setidaknya begitulah kami pikir. Ketika pengumuman pemenang tiba, kami deg-degan maksimal. Dan… kami berhasil meraih juara tiga walau jurinya mantan pembimbing kami sendiri. Rasanya campur aduk: bangga tapi juga sedikit kecewa karena target juara satu melayang. Tapi Ners Rian dengan santainya berkata, “Juara tiga itu lumayan, lho. Karena lawan kalian itu lebih siap dan lebih bagus dari kalian.”

Setelah itu, Ners Rian langsung meluncurkan evaluasi seperti presenter acara investigasi. Setiap kesalahan kecil kami diuraikan dengan rinci. Tapi anehnya, kami tetap merasa semangat. Dari momen itu, Ners Rian memutuskan untuk membentuk tim LKTI baru dari angkatan 2016, sementara kakak tingkat 2014 mulai sibuk dengan skripsi. Pengalaman ini tidak hanya mengajarkan kami cara bertarung di kompetisi nasional, tapi juga bagaimana menghadapi kegagalan dengan kepala tegak—dan tentunya dengan tambahan prestasi sebagai bonus di perjalanan hidup kami.

Kupanggil dia Ners. Eps 2 - Ketika Deadline dan Keajaiban Bertemu di Koridor Dosen

Suatu sore yang biasa di ruang UKM NSC, Mas Aris datang menghampiriku. Ada urusan penting, katanya—proses perizinan ikut lomba esai di salah satu kampus negeri. Sebagai ketua UKM, ya mau tidak mau aku bantu mengurusi administrasi ke BEM dan fakultas. Bukan karena dia tidak mengerti cara urus sendiri, tapi sistem baru yang membuat mahasiswa harus koordinasi dulu dengan UKM bikin semuanya mejadi sedikit ribet. Mas Aris—lengkapnya Aris Munandar Angkatan 2015—belakangan lagi naik daun. Namanya jadi sering disebut gara-gara dua kali menang lomba esai nasional dan setelah aku kepo, ternyata dosen pembimbingnya adalah the one and only Ners Rian.


Karena dia lagi nongkrong di ruang UKM, aku penasaran dong. Aku tanya, “Kenapa sih Ners Rian, Mas?”

“Gini, Ces,” katanya sambil garuk-garuk kepala, “Aku tuh orangnya suka mepet deadline. Jadi waktu itu aku bingung, dosen mana yang bisa aku ajak jadi pembimbing. Aku coba kontak dua dosen, satu nggak bisa karena ada kegiatan, satunya lagi nolak setelah lihat proposalku. Katanya, beliau nggak ahli di bidang itu.”

Nah, di sinilah drama dimulai. “Hari itu deadline pengiriman proposal, Ces. Aku udah frustrasi. Terus pas jalan di koridor ruang dosen, aku lihat ada Ners Rian. Hanya dia yang lagi ada di ruangan. Akhirnya aku coba saja hubungi, ya udah pasrah. Pikirku, aku cuma butuh tanda tangan, kok.”

“Dan gimana, Mas? Apa kata Ners Rian?” tanyaku, makin penasaran.

“Ya gitu. Dia cuma bilang, ‘Oh oke, sini saya ttd.’ Aku lega dong, tapi penasaran. Jadi aku tanya, ‘Ngapunten, Ners, ada saran atau masukan, nggak?’”

Eh, nggak disangka-sangka, dia malah jawab, “Gak usah”

“Aku malah bingung”

Melihat ekspresiku

“Coba kamu presentasikan dulu di depan saya.”

“Gila, Ces, aku disuruh presentasi!” katanya sambil geleng-geleng.

Akhirnya, Mas Aris mencoba presentasi seadanya. Tapi ternyata ini bukan cuma soal asal tanda tangan. Ners Rian mulai ngelempar pertanyaan maut:

“Dasar kamu apa? Teori siapa yang kamu pakai? Dan aplikasi nyatanya gimana?”

Mas Aris kelabakan, tapi di tengah itu semua, ada kalimat yang bikin dia tercerahkan:

“Jangan bicara kalau nggak pakai data atau dasar. Kalau kamu bisa jawab itu, saya yakin kamu bakal masuk tiga besar.”

“Serius, Ners?” Mas Aris balik tanya, setengah nggak percaya begitu juga aku.

“Ya serius, Ces.”

Dan gila, ternyata benar. Di lomba itu, Mas Aris beneran dapat juara 3! Sejak saat itu, dia jadi nggak pernah ragu pilih Ners Rian sebagai pembimbing. “Awalnya ku pikir dia agak aneh.”

Aku hanya bisa tersenyum karena hampir semua orang yang kutemui pasti bilang dia aneh.

Sore itu, Mas Aris cerita panjang soal pengalamannya riset bareng Ners Rian. Dari latar belakang penelitian sampai solusi masalah, semuanya diajari dengan detail. Dan aku pun mulai mikir, kayaknya seru juga kalau bisa kolaborasi sama Ners Rian untuk event nasional yang terdekat adalah Basic Nursing Science Competition atau BNSC. Ekspektasi negatifku soal beliau akhirnya hilang perlahan. Ternyata, di balik gaya gak seriusnya, Ners Rian punya keahlian yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mungkin ini juga alasan kenapa Ners Wida pilih dia jadi pembina UKM.

Kupanggil Dia Ners - Eps 1. Charger HP, dan Jalan Panjang Menuju Keperawatan

Langit sore itu memancarkan kilauan cahaya, seolah memahat sebuah lukisan indah di atas cakrawala nan biru. Tapi, dalam hati ini, segalanya terasa kelabu. Keperawatan menjadi pelabuhan terakhir dalam perburuan panjangku mencari perguruan tinggi. Bukan pilihan pertama, bahkan bukan pilihan kedua. Namun, takdir seperti telah merangkai dan memiliki rencana lain untukku.


Aku masih ingat perdebatan sengit di ruang keluarga beberapa bulan lalu. Ibu ingin aku menjadi perawat atau guru—pekerjaan yang katanya mulia. Tapi aku yakin referesinya hanya karena melihat mereka berseragam dikampung. Lain dengan bapak yang punya pandangan berbeda. Baginya, dunia non-kesehatan lebih menjanjikan. Di tengah tarik ulur itu, aku hanya bisa terdiam, membayangkan semua opsi tanpa tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Namun, hasil SNMPTN-lah yang akhirnya menjadi penentu. S1 Keperawatan, beasiswa Bidikmisi, dan kehidupan baru di Jember—itulah jawabannya. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, beban ini terasa berat. Bukan hanya soal membuktikan diri, tapi juga karena aku sadar keluarga kami tak punya banyak kemampuan ini. Bapak hanyalah petani, sementara ibu mengelola toko kelontong alias pracangan kecil di rumah. Setiap langkahku seolah menjadi taruhan untuk masa depan keluarga kecilku.

Pendaftaran kuliah, pengurusan berkas, hingga persiapan keberangkatan ke Jember kulakukan sendiri. Motor tua milik bersama setia menemani, seperti sahabat yang tak pernah mengeluh. Perjalanan dari Probolinggo ke Jember, meski melelahkan, memberi ruang untukku merenung. Jalanan panjang, sawah yang menghampar, dan angin yang membawa aroma laut—semuanya menjadi saksi perjalanan saat itu. Namaku Cassia Neila Rayanna, tapi teman-teman memanggilku Cesa. Nama ini, entah bagaimana, menjadi lekat. Namun, ada saja teman yang iseng menambahkan huruf N, memanggilku "Cesan"—dan menghubungkannya dengan charger HP. Setiap kali itu terjadi, aku tak pernah tinggal diam. "Cesan? Charger HP? Dasar nggak kreatif!" bentakku, meski dalam hati ingin tertawa juga. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melawan bully. Itu membuatku tumbuh menjadi sosok yang keras kepala dan tak mudah menyerah. Tapi ada satu hal yang belum bisa kutaklukkan: rasa gugup saat harus berbicara di depan banyak orang. Bayangkan, aku bisa melawan teman-teman iseng di sekolah, tapi begitu berdiri di depan kelas, lututku rasanya gemetar dan perut berputar tak karuan.

Lalu, kenapa keperawatan? Kadang aku bertanya hal yang sama pada diriku sendiri. Apakah ini benar-benar pilihanku, atau hanya karena dorongan ibu, bapak, dan guru BK di sekolah? Guru BK-lah yang memberiku pandangan tentang prospek keperawatan, apalagi dengan jalur undangan yang mempermudahku meraih semua ini. Hari-hariku di Jember kini dipenuhi rutinitas sebagai mahasiswa. Selain sibuk kuliah aku tak lupa dengan kegiatan non akademik, aku aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Nursing Science Club (NSC). UKM ini seperti versi kuliah dari Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang kuikuti saat SMA. Aku suka menulis, terutama karya ilmiah, jadi bergabung di NSC rasanya seperti pulang ke rumah kedua.

Awalnya, aku hanyalah anggota biasa yang mengikuti semua kegiatan senior. Tapi lambat laun, kebiasaanku bersosialisasi membuatku mencuri perhatian. Entah bagaimana, aku selalu berakhir menjadi pusat perhatian. Pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA ternyata membantuku membangun jejaring di kampus. Teman-teman bilang aku "ramah tapi bossy alias suka mengatur dan memerintah," dan aku hanya tertawa menanggapinya. Semester dua menjadi titik balik. Aku terpilih menjadi Ketua NSC di bawah bimbingan Ners Wida. Bagi banyak orang, itu mungkin hal besar. Tapi bagiku, ini hanya langkah kecil dalam perjalanan panjang menjadi seorang perawat. Di sela-sela waktu, aku sering memikirkan pilihan hidupku. Keperawatan bukan mimpi masa kecil, tapi kini, aku melihatnya sebagai jalan takdir yang indah dan menyenangkan bagiku. Aku yakin, di akhir cerita ini, aku akan bersyukur pernah memilih untuk percaya pada takdir.