Awal tahun 2005, Indosiar adalah kiblat segala drama. Setelah kita semua dibuat babak belur oleh drama Taiwan—mulai dari kedinginan bareng F4 di Meteor Garden, balap lari di MVP Lover, sampai galau di At Dolphin Bay—tiba-tiba peta kekuatan berubah. Sebuah drama Korea bertajuk Full House menyerang jam 5 sore kita dengan kekuatan penuh.
Full House bukan cuma tontonan; ia adalah sekte. Lee Young-jae dan Han Ji-eun bukan sekadar karakter, mereka adalah alasan kenapa remaja saat itu tiba-tiba mengalami gangguan perilaku massal.
Fenomena yang paling ajaib adalah lahirnya virus kata "Aja Aja Fighting!" yang dilokalkan secara paksa menjadi "Semangat!" lengkap dengan gerakan tangan mengepal di depan dada.
Di koridor sekolah, kata "Semangat!" mendadak jadi kata ganti untuk "Halo", "Dadah", atau bahkan "Aku sayang kamu". Masalahnya, yang meniru ini lupa berkaca kalau paras mereka lebih mirip pemain figuran yang tertabrak bemo daripada Bi Rain atau Song Hye-kyo.
Risan & Pacarnya: Pasangan ini adalah carrier virus paling parah. Di kelas, ketika jam istirahat sambil makan nasi kuning, mereka saling berbisik "Semangat ya mamnya..." sambil mengepalkan tangan. Teman-teman di meja sebelah langsung mendadak mual, nafsu makan hilang seketika, lebih efektif daripada obat diet manapun.
Ica si Pemandu Sorak Dadakan: Dari pinggir lapangan basket yang debunya minta ampun, Ica berteriak "SEMANGATTTTT MARVELLLL!" dengan nada melengking yang sanggup memecahkan kaca jendela kelas. Marvel yang baru mau lay-up langsung kaget, bolanya meleset, dan malah mengenai kepala lawan. Dian lain cerita dia yang berterik di pinggir lapangan karena Pacarnyalah yang pemain Basket.
Viona si Puitis Gagal: Viona diam-diam menyelinap ke meja Didi, lalu menuliskan kata "Semangat" besar-besar di buku tulis Matematika Didi. Bukannya terharu, Didi malah panik karena dia kira itu adalah coretan dari guru bimbingan konseling yang sedang mengawasinya.
Sari & Sang Rockstar: Puncaknya adalah Sari. Saat pacarnya sedang sibuk check-sound di atas panggung pensi sekolah yang gahar, Sari berteriak "Semangat, Sayang!" di depan panggung. Maliq yang sedang bergaya ala anak band metal langsung tertunduk malu, wibawa rockstar-nya hancur lebur dalam satu detik.
Sayangnya, mantra "Semangat" ini ternyata tidak memiliki kekuatan magis untuk menahan badai asmara remaja yang labil. Ternyata, cinta tidak cukup hanya dengan modal mengepalkan tangan ke udara.
Satu per satu, sebelum ijazah kelulusan sempat disentuh, drama percintaan mereka mencapai ending-nya masing-masing. Tanpa ada soundtrack lagu "Sha La La" yang ceria, hubungan mereka bubar jalan. Tapi walau begitu ada salah satu diantara mereka yang tetap menggunakan Kata “Semangat” hingga menuliskannya di seragam sekolah ketika kelulusan. Kata "Semangat" yang dulu diteriakkan dengan penuh cinta, kini hanya menjadi kenangan pahit yang kalau diingat-ingat lagi sekarang, rasanya ingin pindah ke planet lain karena malu sendiri.
