-->

Arek Asrama Eps 1 – Istana 900 Ribu

Kenapa kami memilih asrama ini? Jawabannya bukan karena pengen mandiri, tapi karena kami miskin yang realistis. Tahun 2005, di saat kos-kosan Surabaya paling murah sudah mematok harga 150 ribu per bulan, asrama ini muncul layaknya pahlawan: 900 ribu rupiah. Bukan per bulan, bukan per semester, tapi PER TAHUN. Kalau dikalkulasi, biaya sewa kami lebih murah daripada biaya parkir motor di mal. Tapi ya ada harga, ada rupa (dan bau).

Asrama ini punya tiga blok: A, B, dan C. Kami menghuni Blok C, yang suasananya lebih mirip lokasi syuting film horor yang kehabisan anggaran. Lokasinya sangat strategis—tepat di pinggir sungai yang baunya punya karakter kuat: campuran antara bangkai tikus, limbah pabrik, dan keputusasaan mahasiswa tingkat akhir.

Kondisi kamarnya? Luar biasa... menyedihkan.

Dipan: Dulu mungkin bentuknya ranjang, tapi tangan kreatif para senior telah memotong-motong kayunya (mungkin buat api unggun atau buat mukul maling).

Kasur: Kami dapat kasur kapuk yang sudah tidak layak disebut kasur. Lebih mirip gumpalan penderitaan yang penuh tungau. Kalau kamu tidur di situ, besok paginya badanmu bukan segar, tapi penuh peta merah gatal-gatal hasil kerja keras serangga lokal.

Lemari: Kondisinya "seadanya". Maksudnya, kalau kamu buka pintunya, kamu harus punya refleks ninja supaya pintunya nggak lepas dan menimpa jempol kakimu.

Kamar Mandi: Survival of the Fittest

Fasilitas sanitasi kami adalah ujian nyali yang sesungguhnya.

Sistem Kunci: Lupakan kunci slot atau handle pintu modern. Di sini kami menggunakan Grendel Paku yang harus diputar dengan teknik khusus, atau yang paling legendaris: Pengerem Pintu Pakai Batako. Jadi kalau kamu lagi buang hajat, kamu harus memastikan batakonya sudah tergeser sempurna, atau kamu akan berakhir bertatapan muka dengan temanmu yang mau mandi.

Tempat Sampah: Terbuat dari ban mobil bekas. Isinya bukan cuma sampah, tapi tumpukan peradaban yang meluber sampai ke lantai, menciptakan ekosistem baru yang cukup "mebagongkan".

Tugas berat kami adalah mencari korban—maksudku, teman sekamar baru—supaya Blok C nggak sepi-sepi amat.

Suatu hari, Fiqqy datang bersama orang tuanya. Aku dan Prof Yudha mendadak berubah jadi sales panci profesional. "Wah, Om, Tante, di sini udaranya segar (karena ventilasinya bolong semua). Dekat dengan alam (sungai bau got). Dan yang paling penting, melatih mental kepemimpinan!" ujar kami penuh semangat.

Ibu Fiqqy melihat plafon yang nyaris rubuh, lalu melihat batako di depan kamar mandi, dan terakhir melihat kasur kapuk yang sudah berubah warna jadi cokelat tanah. Wajahnya merengut, tangannya memegang tas erat-erat seolah takut asrama ini akan menelan anaknya hidup-hidup. Fiqqy? Dia cuma bisa diam seribu bahasa, menatap kami dengan tatapan "Kalian ini teman atau agen pencabut nyawa?".

Hasilnya? Fiqqy balik kanan bubar jalan. Begitu juga dengan Indra. Berkali-kali ditawari, berkali-kali pula dia menolak dengan alasan "masih sayang nyawa".

Tapi bagi kami yang tetap bertahan—kami yang sudah kehilangan rasa gengsi dan mungkin kehilangan sebagian fungsi indra penciuman akibat bau sungai—asrama ini bukan sekadar tempat bernaung dari hujan. Lebih tepatnya, asrama ini adalah laboratorium ketahanan mental.

Di balik pintu kamar mandi yang harus diganjal batako itu, kami belajar tentang privasi yang sangat rapuh. Ada seni tersendiri saat kamu sedang "bertapa" di dalam, sementara temanmu di luar berteriak, "He, cepetan! Atau tanpa basa basi langsung menggeser batako dan melihat gajah duduk!" Di sana, tawa kami meledak.

Kami menyadari satu teori ekonomi yang tidak diajarkan di bangku kuliah: Teori Kebahagiaan Terbalik. Semakin murah biaya hidupmu, semakin rendah standar kebahagiaanmu. Di asrama ini, mendapatkan kasur yang tidak ada kutunya saja sudah terasa seperti menang lotre. Mendapati air keran mengalir lancar tanpa warna cokelat karat sudah terasa seperti fasilitas hotel bintang lima.

Kami bertahan karena kami punya satu sama lain. Di blok C yang sepi dan remang-remang itu, kami membentuk semacam persaudaraan "Senasib Sepenanggungan". Kami menertawakan kemiskinan kami sebelum dunia sempat menertawakannya. Kami menertawakan kasur kapuk yang keras itu sebagai "latihan tidur di atas batu nisan", agar kelak kalau kami sukses, kami tidak akan lupa rasanya merayap dari bawah.

Sebab, ketika kamu sudah berada di titik termurah dalam hidup—di sebuah asrama seharga 900 ribu setahun yang nyaris rubuh pembatasnya—satu-satunya jalan untuk tetap waras memang hanyalah tertawa. Karena jika kami tidak tertawa, pilihannya hanya satu: menangis, dan menangis butuh energi, sedangkan kami terlalu lapar untuk itu.

Di sinilah, di antara aroma sungai yang "ajaib" dan grendel pintu dari paku, cerita kami benar-benar dimulai. Sebuah kisah tentang bagaimana menjadi kaya dalam tawa, meskipun dompet hanya berisi struk ATM yang saldonya tidak bisa ditarik lagi.