-->

Di Balik Sarang Lebah Eps 22 – Huru-Hara Sweet Seventeen Dian: Antara Glamour dan Doa Mustajab

Sweet Seventeen. Sebuah frasa keramat yang paling ditunggu-tunggu remaja di muka bumi. Biasanya, teman-teman perempuan kami yang banyak merayakan ulang tahun ke-17 dan khusus laki-laki pada umumnya cukup syukuran sederhana atau traktiran bakso atau makan Gurami di Warung Gizi Sukowono. Tapi, rumus itu tidak berlaku untuk Dian.

Tanggal 23 Januari 2004 tercatat dalam sejarah kami sebagai hari raya tak resmi bagi penghuni Sarang Lebah. Kenapa? Karena hari itu adalah momen Sweet Seventeen Dian yang legendaris. Kalau ulang tahun kami biasanya cuma mengundang sesama anggota lebah (biar irit), Dian beda kasta. Undangan ulang tahunnya adalah simbol status sosial.

Dian tidak sembarangan menyebar undangan. Dia menerapkan sistem seleksi ketat layaknya audisi model majalah remaja. Pintar saja tidak cukup untuk masuk dalam guest list-nya. Syarat mutlaknya satu: harus KEREN. Tak heran, bukan hanya SMAN Kalisat tapi tamu yang datang lintas sekolah, lintas kecamatan, bahkan "impor" langsung teman-teman elit dari Jember.

Bagi kami teman satu sekolah, mendapat undangan Dian itu rasanya seperti memenangkan Golden Ticket Willy Wonka. Itu adalah tiket VIP untuk melihat peradaban yang lebih maju. Di pesta inilah kami bisa menyaksikan remaja-remaja putri dengan style ala anak kota: kulit putih, mulus, glowing, dan wangi. Sungguh kontras yang menyakitkan mata jika disandingkan dengan kami, yang boro-boro kenal handbody lotion, sabun mandi saja kadang masih bentuk Batangan dilengketkan dengan yang lama. Kulit mereka memantulkan cahaya lampu, sementara kulit kami menyerap debu jalanan.

Suasana pesta Dian kala itu bisa dibilang Prom Night dengan kearifan lokal. Walau tanpa sesi dansa-dansi romantis, kemewahannya tetap terasa. Uniknya, meski glamor, Dian tetap ingat akhirat. Undangan tertulis mulai pukul 4 sore, tapi ada break wajib untuk Sholat Isya. Katanya sih, "Biar pestanya barokah dan berjalan lancar tanpa gangguan setan atau satpol PP."


Begitu tiba di lokasi, kami langsung disambut pemandangan yang bikin minder level dewa. Halaman rumah Dian hari itu telah bermetamorfosis menjadi showroom elit dadakan. Mobil-mobil kinclong dan sepeda motor sport paling hits di zamannya nampak berjejer sombong, seolah sedang ada kontes modifikasi kendaraan tingkat karesidenan. Di tahun 2004, melihat jejeran kendaraan 'wah' sebanyak itu di satu tempat rasanya seperti melihat pameran harta karun nasional. Saking kerennya barisan parkir itu, kami sempat curiga: kalau ada tamu yang nekat datang naik motor butut yang bodi getarnya sampai ke gigi, pasti oleh panitia disuruh parkir di kelurahan sebelah biar tidak merusak estetika visual.

Tak hanya pamer kendaraan, masuk ke dalam venue pesta terasa seperti masuk ke pameran teknologi masa depan—versi tahun 2004. Para tamu 'sultan' ini tidak sekadar ngobrol, tapi sibuk melakukan senam tangan agar HP Nokia keluaran terbaru mereka terlihat oleh publik. Di sudut sana, ada gerombolan yang menggenggam Nokia 6600 "si gendut" yang legendaris bak memegang piala Oscar, bangga sekali dengan layar berwarna dan kamera VGA yang hasilnya buram estetik itu. Sementara cowok-cowok gamer sok sibuk menelpon dengan posisi miring aneh menggunakan Nokia N-Gage—biar kelihatan keren padahal repot setengah mati. Ruangan bising bukan karena obrolan, tapi karena adu gengsi memutar ringtone poliponik lagu Peterpan sekencang-kencangnya. Mereka juga sibuk saling menempelkan pantat HP untuk transfer gambar via port inframerah, sebuah ritual 'canggih' yang memakan waktu setengah jam hanya untuk satu foto. Pemandangan teknologi tinggi ini sukses membuat kami, kaum pengguna setia Nokia 3315 layar monokrom yang cuma bisa main Snake II, buru-buru menyembunyikan HP ke dasar saku celana terdalam agar tidak merusak pemandangan.


Lupakan lagu-lagu pop melow yang mendayu-dayu, begitu kaki melangkah masuk ke ruang tamu Dian, gendang telinga kami langsung 'disidang' oleh dentuman bass yang bisa merontokkan kotoran telinga. Atmosfernya mendadak berubah jadi lantai dansa klub-klub di MTV Cribs. Suara Usher yang teriak “Yeah! Yeah!” menyambut kami dengan penuh wibawa, membuat siapa saja yang lewat merasa wajib jalan dengan gaya swag yang agak dipaksakan. Belum cukup sampai di situ, lagu Louchie Lou & Michie One – "10 Out Of 10" membuat para cewek-cewek undangan merasa nilai kecantikannya auto-naik jadi sepuluh sempurna saat berjalan masuk. Tapi yang paling bikin heboh adalah saat JTL – "My Lecon" diputar; intro musiknya yang legendaris itu sukses menyihir ruangan menjadi arena breakdance dadakan. Kepala kami otomatis manggut-manggut sok asik mengikuti irama hip-hop canggih itu, walau sejujurnya pinggang kami kaku dan cuma bisa goyang jempol, berusaha keras terlihat ngerti musik 'barat' meski lirik yang kami hafal cuma bagian reff-nya doang.

Aturan main kedatangan juga ketat: wajib berpasangan! Kami datang menggandeng pacar masing-masing dengan bangga. Lantas, bagaimana nasib kaum jomblo atau yang sedang perang dingin sama pacar? Tenang, Dian adalah event organizer sekaligus mak comblang bertangan dingin. Dia menyiapkan serangkaian games ajaib.

Jangan harap ada permainan anak kecil macam rebutan kursi di sini. Konsep games racikan Dian ini sederhana tapi dampaknya mematikan: sebuah mekanisme kejam yang memaksa kaum jomblo untuk segera menanggalkan status kesendiriannya, suka atau tidak suka. Visi misi Dian malam itu jelas bukan sekadar hura-hura, melainkan mengemban tugas mulia bak provider seluler papan atas: 'Mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat, dan menjerat yang masih malu-malu kucing.' Garansi acaranya 100% ampuh; begitu kaki melangkah keluar pagar, yang jomblo minimal pulang bawa gebetan baru, sementara yang sudah pacaran level kemesraannya langsung naik drastis sampai susah dipisahkan kayak perangko kena lem super.