Semua bermula saat libur kenaikan kelas tiba. Dian, sang inisiator ulung, datang dengan mata berbinar-binar dan sebuah proposal acara yang katanya,
"Nol Budget tapi Semarak Membahana!"
Di kelas 2.4, setelah bel istirahat berbunyi, Dian mengumpulkan kami bak panglima perang.
Di kelas 2.4, setelah bel istirahat berbunyi, Dian mengumpulkan kami bak panglima perang.
"Guys, karena minggu depan libur, kita jalan-jalan yuk!" serunya penuh semangat.
Kami semua antusias. Dalam bayangan kami: Wah, pasti naik Gunung nih! Atau minimal ke pantai lah!
Merasa idenya diremehkan, Dian memasang wajah poker face dan memberikan ultimatum dramatis,
Kami semua antusias. Dalam bayangan kami: Wah, pasti naik Gunung nih! Atau minimal ke pantai lah!
Tapi, setelah Dian membeberkan itinerary-nya... Hening. Bukan ke Gunung, bukan ke Bali, melainkan... Ekspedisi Bukit Belakang RSD Kalisat (yang notabene cuma bukit depan rumah Dian sendiri), lanjut susur sungai, lalu makan siang di rumah Prita yang tak jauh dari sisi bukit.
Seketika, ruangan pecah oleh tawa. Risan tertawa paling keras, mungkin dalam hatinya membatin, "Dian, please deh, kita mau liburan, bukan mau cari rumput!"
Merasa idenya diremehkan, Dian memasang wajah poker face dan memberikan ultimatum dramatis,
"Oke, yang berminat, aku tunggu SMS kalian Sabtu malam!"
Lalu dia pergi dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Ngambek ceritanya.
Siapa sangka, hari Minggu itu justru penuh kejutan! Ternyata banyak yang hadir. Ada Prita (tuan rumah) bareng Piping, lalu Dian tentu saja dengan Nyonya. Ada Adi dan pacarnya (mungkin Adi merasa berdosa kalau menolak karena Dian yang menjodohkan mereka, hahay!).
Dan plot twist terbesarnya: Marvel datang! Gak tanggung-tanggung, Marvel membawa pacarnya yang bohay dari Jember. Ini benar-benar di luar nalar BMKG! Kami pikir Marvel bakal ilfeel dengan acara "receh" ini, tapi ternyata dia justru yang paling niat.
Jam 8 pagi, pasukan berkumpul di rumah Prita. Dengan semangat 45, kami mulai mendaki bukit legendaris itu. Prita membawa tas anyaman isi logistik, sementara kami membawa bekal sesuai instruksi: tahu, buah, dan tikar.
Kalau pendaki gunung butuh berjam-jam, kami cuma butuh 20 menit buat sampai puncak! Itu pun karena banyak yang jalan sambil bucinin pacar masing-masing. Coba kalau jomblo semua lari, 5 menit juga sampai! Piknik Mewah di Atas Bukit.
Berdiri di puncak itu, rasa skeptis kami seketika luntur berganti decak kagum; hamparan Ajung dan Kalisat terbentang di bawah sana bagaikan kota mainan lego yang rumit namun menawan. Angin sepoi-sepoi yang menyapa wajah membuat kami merasa gagah bak raja dan ratu penguasa wilayah yang sedang memantau negerinya, padahal nyatanya kami hanyalah sekumpulan sahabat yang baru saja menaklukkan bukit tetangga dengan napas tersengal. Ada kepuasan tersendiri yang membuncah di dada, seolah dunia yang luas itu tiba-tiba menjadi kecil dan masalah hidup terasa sepele, menyisakan hanya rasa bebas dan tawa yang lepas di ketinggian.
Tikar digelar, dan taraaa! Dian dan Prita mengeluarkan senjata rahasia: Rujak Buah dan Gorengan! Di atas bukit, ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan atap rumah warga, kami makan dengan lahap. Ternyata benar kata orang, bahagia itu sederhana (dan murah meriah!).
Setelah kenyang, kami turun menyusuri sungai dari batas desa Ajung ke Plalangan. Sebelum sampai rumah Prita, Dian memberi kode rahasia:
"Taruh barang di mushola pinggir sungai."
Ternyata, Dian sudah merencanakan sesi "Basah-basahan Surprise!" Tanpa aba-aba, perang air dimulai! Momen paling epik adalah saat pacar Marvel yang stunning itu ikut kena siram air sungai. Wajah Dian tampak sangat puas dan bahagia melihat kekacauan indah yang ia ciptakan itu. Kami semua tertawa lepas, basah kuyup, tapi hati rasanya hangat sekali.
Ekspedisi sederhana ini menemukan akhir yang sempurna saat langkah kaki kami membawa kami kembali ke kehangatan rumah Prita. Dalam kondisi basah kuyup dan perut yang riuh bernyanyi kelaparan, aroma masakan Bibi Tum menyambut kami bak pelukan hangat yang menenangkan jiwa. Di meja makan, hidangan lezat yang masih mengepul itu seolah bersinar memanggil-manggil, dan suapan pertama rasanya seperti surga dunia. Rasa lelah seketika sirna berganti dengan kepuasan yang paripurna; perut kenyang, hati senang, dikelilingi sahabat tersayang—sungguh sebuah definisi 'nikmat mana lagi yang kau dustakan' yang paling nyata dan indah.
Hari itu, sebuah pelajaran berharga terpatri diam-diam di hati kami. Ide sederhana Dian membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tak pernah meminta bayaran mahal. Tanpa perlu duduk di kafe mewah dengan sorot lampu temaram atau mengejar tempat hits demi eksistensi, kami menemukan bahwa kemewahan yang sesungguhnya ada di sini. Tawa kami yang meledak lepas di udara terbuka hari itu terdengar jauh lebih nyaring dan merdu daripada musik di tempat mahal manapun—sebuah simfoni ketulusan yang tak ternilai harganya.
