-->

Di Balik Sarang Lebah Eps 24 – Romansa Lorong Indomrt

Kisah kasih di SMA memang sering kali terasa seperti drama jadul, tapi sayangnya, kehidupan nyata lebih sering terasa seperti sketsa komedi yang salah naskah.

Setelah lulus kelas tiga, hubungan Didi dan Viona bubar jalan begitu saja. Tidak ada tangisan dramatis di bawah hujan, hanya saling menjauh. Di zaman modern di mana melacak mantan semudah mencari resep seblak di internet, anehnya, mereka berdua seolah hilang dari radar satu sama lain. Waktu berlalu, usia bertambah, perut mulai membuncit, dan keduanya kini telah menikah serta memiliki sirkus kehidupan masing-masing.


Keduanya sebenarnya sudah lama merantau ke luar Kalisat. Namun, semesta rupanya punya selera humor yang receh. Takdir tidak mempertemukan mereka di reuni akbar yang megah, atau di kafe estetik bertema senja. Semesta memilih lokasi yang jauh lebih epik: Indomrt.

Sore itu, pintu kaca berbunyi "Selamat datang di Indomrt, selamat belanja!" dengan ceria. Didi melangkah masuk, tampil seadanya dengan celana pendek kolor dan kaus oblong pudar yang kerahnya sudah melar. Misinya satu: membungkam rengekan anaknya, yang masih 5 tahun, yang sedang tantrum menuntut es krim.

Baru saja Didi berjongkok di depan freezer, pintu kaca kembali berbunyi. Didi menoleh refleks, dan waktu seakan berhenti. Di ambang pintu, berdiri Viona. Ya, Viona sang mantan terindah, yang kini menggandeng seorang pria berkemeja rapi—suaminya.

Momen yang seharusnya menjadi ajang sapaan hangat "Eh, apa kabar? Udah lama banget ya!" setelah puluhan tahun tak bersua, mendadak berubah menjadi operasi senyap agen rahasia. Didi panik. Ia sadar betul penampilannya saat ini lebih mirip bapak-bapak kurang tidur daripada mantan yang sukses move on. Viona pun tampaknya menyadari kehadiran Didi. Langkahnya sedikit tertahan, matanya membesar sedetik, sebelum akhirnya ia buru-buru membuang muka dan mendadak pura-pura sangat tertarik membaca komposisi gizi di bungkus ciki Taro.

Di film-film Hollywood atau Romeo and Juliet, sepasang kekasih masa lalu biasanya saling curi pandang lewat kaca akuarium raksasa yang bercahaya biru romantis. Didi dan Viona? Mereka saling curi pandang di lorong sempit, terhalang etalase sabun colek, deretan minyak goreng promo, dan tumpukan obat nyamuk semprot.

“Buset, kenapa harus ketemu pas gue lagi gembel begini sih?” jerit batin Didi sambil pura-pura meneliti perbedaan Baygon rasa lavender dan jeruk, padahal matanya terus mengawasi pantulan Viona di kaca etalase.

Di lorong seberang, Viona juga tak kalah canggung. Ia harus menjaga wibawa di depan suaminya, yang sama sekali tidak peka dengan aura ketegangan di udara dan malah sibuk bertanya, "Ma, sosis yang beli dua gratis satu yang mana ya?"

Didi dan Viona hanya bisa berkomunikasi lewat telepati dan tatapan mata sepersekian detik. Saat mata mereka tak sengaja bertemu di celah antara rak pampers dan pembalut, keduanya langsung menunduk serentak seperti murid yang ketahuan menyontek.

Namun, penderitaan sesungguhnya belum dimulai. Puncak komedi canggung ini meledak ketika mereka harus menuju kasir.

Hanya ada satu kasir yang buka. Didi berdiri di antrean depan, memegang dua buah es krim dengan tangan gemetar. Tepat di belakangnya, berdiri Viona beserta suami. Jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Hening. Atmosfernya begitu kaku sampai-sampai suara pendingin ruangan terdengar seperti konser rock.

"Member Indo****-nya ada, Kak?" tanya Mbak Kasir memecah keheningan dengan riang.

"E-eh, nggak ada, Mbak," jawab Didi gelagapan. Keringat dingin mulai menetes.

Tiba-tiba, anak Didi, menunjuk makanan di sebelah Viona yang ada di belakang mereka. "Mah, dedeknya lucu. Boleh dikasih es krim nggak?"

Jantung Didi rasanya mau copot. Suami Viona tersenyum ramah dan memegang pipi anak Didi. "Wah, anaknya pintar ya, Mas. Berapa umurnya?"

Didi menelan ludah. Ia menoleh pelan, menatap suami Viona, lalu melirik Viona yang wajahnya sudah memerah menahan canggung yang luar biasa. Di bawah lampu neon minimarket yang terang benderang, masa lalu dan masa kini bertabrakan di depan meja kasir, disaksikan oleh promo tebus murah kopi Kapal Api.