-->

Drama Masuk Sekolah Favorit & Plot Twist Pepatah Nenek

Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa sangat kontras. Si sulung lagi ketar-ketir menanti hasil seleksi SMP favorit di kota, sementara adiknya di pojokan dengan wajah tanpa dosa asyik bantai-bantai musuh di PlayStation. Santai banget vibes-nya.

Di tengah keheningan, tiba-tiba si sulung nyeletuk galau, "Pak, kata Pak …(Menyebut salah satu nama guru), Bapak sama Ibu disuruh main-main silaturahmi ke..." Dia menyebutkan satu nama 'orang penting' yang kebetulan memang aku kenal.

Aku cuma bisa nyengir mendengarnya. Niat gurunya sih pasti baik. Maklum, di zaman now, "Jalur VIP" semacam itu rasanya sudah jadi rahasia umum. Ibunya anak-anak apalagi, sempat cerita kalau papasan sama 'orang penting' lainnya hingga wajahnya langsung overthinking level dewa. Kayaknya sih ada trauma masa lalu silahkan baca sendiri disini... hehe).

Padahal nih ya, anak pertamaku ini built-nya lumayan spesial. Walau screen time mainnya kenceng, prestasinya nggak kaleng-kaleng. Langganan ranking 1 dan 2 dari kelas 1 SD, peserta jambore terbaik, jago main bola, sampai bawa pulang piala Juara 2 Cerdas Cermat Kabupaten dari Dinas Pendidikan. Secara portofolio, CV-nya udah glow up banget lah buat ukuran bocah SD yang mau lulus.

"Kalau nanti aku nggak diterima, gimana, Pak?" tanyanya muram. Wajar sih dia insecure. SMP incaran dia ini tipe sekolah yang kalau mau daftar aja, antriannya udah kayak mau rebutan tiket konser—harus standby dari subuh!

Mendengar kegalauannya, aku tersenyum sok bijak.

"Kalaupun pada akhirnya kamu sekolah di SMP-nya Uti, Bapak nggak khawatir sama sekali, jawabku tenang". Maksudku adalah SMP di desa tempat kami tinggal, kebetulan tempat mertuaku mengabdi.

Mendengar itu, dia mulai tersenyum. Tension-nya agak turun.

"Bapak dulu juga alumni SMP desa kok. Yang penting sekarang kamu banyakin doa, biar dilancarkan sama Allah," tambahku.

Lalu, keluarlah jurus pamungkas. Sebuah quotes legendaris warisan ibuku yang dulu sukses memotivasiku waktu aku terpaksa sekolah di kampung:

"Emas itu, biarpun di tempat sampah sekalipun, akan tetap jadi emas."

Wuih, magis banget kan kedengarannya? Dulu aku merinding dengar kalimat itu entah kutipan film atau buku dari mana yang dia ambil tapi aku merasa terbantu. Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian setelah aku mencapai semua yang kata orang itu sukses, aku baru sadar ada sebuah plot twist epik: Ternyata ibuku ngomong begitu murni karena kita lagi bokek dan nggak punya duit buat masukin aku ke SMP/SMA favorit! Tapi ya sudahlah, yang penting pepatah itu works!

Sebagai penutup sesi konseling ayah-anak malam itu, aku kasih dia finishing blow yang bikin kepercayaan dirinya maxed out:

"Gini ya, kalau sampai kamu gagal masuk sana, berarti SMP itu yang rugi besar karena gagal dapetin siswa sekeren kamu!"

Mendengar itu, tawa si sulung akhirnya pecah juga. Beban di pundaknya rontok seketika.

Dan... voila! Hari ini pengumuman resmi keluar, dan anakku DITERIMA.


Jadi, kawan-kawan, pesannya jelas: tetaplah berproses. Bersahabatlah dengan potensi kegagalan, karena itu adalah cara terbaik untuk merintis kesuksesan. Dan ketika semua effort rasanya sudah dikerahkan secara maksimal, biarkan sentuhan terakhir menjadi milik Allah SWT. Karena pada akhirnya, Dia-lah pembuat skenario terbaik, Dia-lah yang paling tahu apa yang kita butuhkan (dan pastinya tanpa perlu repot-repot mencari orang penting).