-->

Arek Asrama Eps 2 – Film Pemersatu Bangsa

Asrama Blok C kalau pagi sampai sore itu sepinya sudah menyaingi kuburan. Kami, para pejuang gelar Amd Kep, harus hustle di kampus dari Senin sampai Jumat. Tapi begitu weekend tiba, satu-satunya hiburan kami hanyalah sebuah TV tabung seharga 150 ribu, hasil patungan berdarah-darah seisi Blok C.

TV legendaris itu disemayamkan di sebuah ruang kosong yang kami sulap jadi bioskop mini, lengkap dengan fasilitas VIP: sebuah kipas angin industri raksasa. Sumpah, kipas ini adalah kebutuhan pokok, karena di Surabaya setelah sandang dan papan, matahari rasanya ada dua dan jaraknya cuma sejengkal dari ubun-ubun.

Menonton TV mendadak naik level jadi sangat menyenangkan ketika salah satu anak Blok C membawa 'pusaka' berupa VCD Player. Kami sering patungan menyewa film terbaru untuk ditonton bersama. Suatu hari, Puji dan Simo, berbekal peta buatan Ucup, melanglang buana ke lapak CD bajakan terlengkap di depan Siola.


Dari sanalah petualangan mendebarkan ini dimulai.

Ekspektasi kami, Puji, Indra, dan Simo akan pulang membawa film action penuh ledakan. Nyatanya? Yang keluar dari balik kresek hitam kelam itu adalah film "Pemersatu Bangsa".

Awalnya, suasana agak awkward. Kami belum terlalu hafal jeroan karakter masing-masing. Takutnya ada yang tersinggung atau malah cepuk ke Pembina Asrama. Tapi nyatanya, aku santai saja ikut nimbrung. Fatah? Makin asyik rebahan sambil hembus-hembus asap rokok. Koko? Senyumnya langsung melebar mencurigakan, seolah mengkonfirmasi bahwa kadar libidonya sedang di puncak klasemen. Sigit yang biasanya kalem pun matanya tak berkedip menatap layar.

Belum sampai film pertama tamat, pintu ruang TV mendadak ada orang.

Yudha si muka datar dan serius, mahasiswa paling rajin di Angkatan kami, masuk. Jantung kami sempat berhenti sedetik. Takut dia marah karena uang patungannya malah dibelikan tontonan terlarang. Tapi dugaan kami meleset jauh. Tanpa protes sepatah kata pun, Yudha menarik posisi PW (posisi wuenak), duduk manis, dan ikut hanyut dalam alur film. Kami kompak menghela napas lega. Aman.

Sepuluh menit berselang, ujian nyali jilid dua datang.

Pintu kembali terbuka dan muncullah Ali. Lengkap dengan sarung melilit pinggang ala santri pesantren. Dia ini religius abis, pentolannya remaja masjid. Keringat dingin mulai turun. Layar masih menampilkan adegan demi adegan yang membuat iman meronta, dan kami terlalu panik untuk mencari remote.

Ali terbelalak menatap TV. "Astagfirullah, Dulur... film opo iki?!"

Kami menatapnya dengan raut memelas, berharap tidak segera dikuliah-tujuh-menit-kan tentang azab kubur. Namun, sebuah keajaiban terjadi. Dari yang awalnya berdiri mematung penuh penolakan, gestur Ali perlahan melunak... dan akhirnya, bruk. Dia ikut duduk bersila di depan TV.


Satu ruangan kembali menghela napas lega berjamaah. Hari itu, dengan damai dan sentosa, kami sukses menamatkan semua kaset yang dibeli.

Begitu credit title film terakhir muncul dan kami sedang mencerna apa yang baru saja kami tonton, tiba-tiba ada satu bayangan berkelebat cepat dari arah belakang. Salah satu dari kami lari terbirit-birit, sudah berkalung handuk dan menenteng gayung.

Simo yang matanya awas melihat pemandangan itu langsung berteriak lantang memecah keheningan, "Woy! Ayo... anaknya dibuang dulu!"

Pecah sudah tawa satu blok asrama.

Sejak insiden itu, hari-hari di asrama terasa lebih dinamis. Awalnya kami memang cuma nonton bersama, tapi lama-lama ada saja oknum yang diam-diam memutar ulang kasetnya sendirian saat asrama sepi. Mungkin mencari director's cut atau sensasi yang lebih private, namun sebagus-bagusnya film tersebut pasti nantinya membosankan.

Hingga suatu sore, trio pembawa bencana—Puji, Indra, dan Simo—datang lagi. Kali ini wajah mereka berseri-seri bahagia layaknya bajak laut yang baru menemukan One Piece. Mereka mengangkut satu kresek hitam super besar.

Mereka bertiga bergegas masuk ke ruang TV. Aku yang penasaran langsung mengekor.

Begitu kresek dibongkar... Buset. Harta karunnya bukan main. Ada lebih dari 20 judul film pemersatu bangsa dari berbagai genre dan benua!

Dengan mata terbelalak, aku bertanya siapa supplier alias pemilik asli dari mahakarya sebanyak ini. Sambil membusungkan dada dan tersenyum bangga, Indra menyebutkan satu nama yang membuat mulutku menganga.

Teman kami. Si peraih IPK tertinggi. Mahasiswa paling cerdas, kesayangan dosen, dan paling rajin di angkatan.

Fiqqy.

Sialan. Ternyata suhu-nya ada di sekitar kita. Akhirnya aku tahu kenapa film ini dinamakan film pemersatu bangsa.