Ekstra Bersama. Sebuah nama event tahunan yang terdengar sangat mulia di proposal SMAN Kalisat: "Mendekatkan sekolah dengan masyarakat, bersinergi dengan pemerintah desa." Tahun ini, lokasinya di Kecamatan Ledokombo.
Tapi bagi kami para siswa? Oho, tunggu dulu. Ini bukan sekadar pengabdian masyarakat. Ini adalah "Lebaran"-nya para remaja. Ini adalah momen di mana seragam putih abu-abu ditanggalkan, diganti dengan baju bebas, dan yang paling penting: bebas dari pantauan orang tua selama tiga hari.
Semua ekstrakurikuler turun gunung. Anak Paskibra latihan baris-berbaris bareng tentara Koramil (serius banget), anak PMR jaga gawang di UKS sekolah sekitar (malaikat tak bersayap), dan kelompok elit pencinta Matematika & Bahasa Inggris memberikan kelas gratis untuk anak SD (sungguh, pahala mereka mengalir deras) bersama teman-teman Pramuka. Tim sepak bola dan Voli sibuk sparring dengan klub lokal, berharap dilirik pencari bakat tarkam.
Sementara itu, anak-anak seni—musik, tari, teater, dan artistik—sibuk memoles diri untuk malam puncak. Saking serunya acara ini, rating Akademi Fantasi Indosiar (AFI) malam itu hancur lebur di mata kami. Bodo amat siapa yang tereliminasi di TV, karena drama di Ledokombo jauh lebih real!
Jumat siang, setelah Jumatan, sekolah berubah jadi basecamp pengungsian. Ransel di mana-mana. Nah, di sinilah keajaiban terjadi. Para anggota "Lebah"—geng kami yang biasanya alergi kegiatan—tiba-tiba mendadak punya jiwa seni tinggi. Hampir semua merapat ke Ekstra Artistik.
Alasannya? Simpel dan politis: Ketua ekstranya adalah anggota geng kami sendiri. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) level sekolah terjadi di sini.
Bahkan Marvel, atlet basket kebanggaan sekolah, banting setir jadi seniman dadakan. Alasannya logis tapi miris: "Gak ada ring basket di Ledokombo, Bro." Daripada nganggur, mending ikut ngelukis. Maliq juga ikutan gabung artistik, padahal jobdesk utamanya cuma nyanyi di malam puncak yang ternyata juga ada modus lainnya. Sisanya? Ada Risan, Awan, Kharis, dan tentu saja Purnomo. Mereka adalah gerombolan yang masuk kategori "Siswa Tanpa Karya tapi Banyak Gaya".
Hanya Dian yang setia pada jalur militer di Paskibra, serta Ferdi dan Gufron yang bermandi keringat di tim sepak bola. Sisanya? Kami adalah Tim Artistik jalur orang dalam. Tugas kami cuma dua: dekorasi panggung (baca: masang kain) dan Action Painting (baca: nyiprat-nyipratin cat biar kelihatan estetik).
Kami tiba di Ledokombo pukul 3 sore. Setelah upacara pembukaan di SDN Sumberlesung 01 oleh Pak Camat yang penuh wejangan, malam pun tiba. Di sinilah "program kerja" yang sesungguhnya dimulai. Bukan proker sekolah, tapi proker asmara. Setelah makan malam, para Lebah mulai bertebaran menjemput bunga-bunga pujaan hati. Lapangan desa malam itu berubah menjadi arena dating massal.
Dian dan Ribud terlihat duduk di sudut lapangan. Wajah mereka lelah, kulit terbakar matahari, tapi tatapan mata mereka? Beuh, romantis abis. Keringat paskibra ternyata punya feromon tersendiri.
Ferdi baru kelar main bola, dan Dea setia memandangnya dari kejauhan. Cinta dalam diam, euy. Didi dan Viona tampak bahagia dunia akhirat setelah Viona tanding voli di SD Sumberlesung 01.
Marvel? Jangan ditanya. Sang sultan ini dapat kunjungan eksklusif dari pacarnya, artis seksi dari Jember. Ledokombo mendadak serasa Hollywood.
Tapi, sorotan utama malam itu jatuh pada Risan. Si buaya darat ini sedang asyik merayu teman sekelasnya. Padahal, Risan sudah punya pacar adik kelas! Dan plot twist-nya: cewek yang dirayu Risan adalah gebetan abadi Adi, teman SMP kami. Adi, yang malam itu juga hadir, hanya bisa menelan ludah dan menahan perih melihat sang pujaan hati tertawa renyah dirayu Risan.
Korban tikungan tajam Risan bertambah. Setelah dulu Gufron jadi korban, kini Adi. Risan benar-benar predator puncak di rantai makanan asmara SMAN Kalisat.
Lalu, di mana Purnomo? Ah, Purnomo. Di kelas 2 ini, "aura chi"-nya belum terbuka sempurna. Dia belum punya keberanian untuk bermanuver. Purnomo malam itu hanya berperan sebagai CCTV berjalan. Dia duduk, mencuri pandang ke wanita-wanita cantik, lalu menyimpan wajah-wajah itu ke dalam harddisk memori otaknya. Motivasinya sungguh visioner: "Nanti kalau aku sukses, kalian akan kukejar." Sabar ya, Pur. Masa jayamu akan tiba.
Maliq? Dia paling semangat di tim artistik. Bukan karena jiwa Van Gogh merasukinya, tapi karena pacarnya ada di tim yang sama semua terkuak setelah mereka berjalan tak terpisahkan. Dasar, modus!
Malam kedua adalah gong-nya. Malam pentas seni. Kami, tim artistik jalur orang dalam, naik ke panggung dengan baju serba putih. Musik remix tradisional-modern berdentum kencang. Kami mulai melakukan Action Painting.
Bayangkan sekelompok remaja cowok, yang seumur hidup jarang pegang kuas, tiba-tiba saling lempar dan ciprat cat di atas kanvas raksasa (dan ke baju masing-masing). Apakah itu seni? Mungkin. Apakah itu seru? Sangat. Kami merasa seperti seniman kontemporer, padahal cuma modal nekat dan cat kiloan.
Setelah pementasan, dengan tubuh penuh warna-warni cat yang mulai mengering, kami duduk di barisan depan. Menikmati angin malam Ledokombo, menonton Maliq menyanyi dengan band-nya. Di detik itu, melihat teman-teman tertawa, melihat pasangan-pasangan muda yang sedang jatuh cinta, dan merasakan lelah yang menyenangkan, kami sadar satu hal.
Mungkin bagi orang luar, ini cuma acara sekolah biasa. Tapi bagi kami, "Ekstra Bersama" adalah lembaran memori emas. Momen di mana kita bisa berkumpul dengan "bunga-bunga cinta", tertawa menertawakan kebodohan Risan, atau sekadar bermimpi seperti Purnomo.
Warna-warni cat di baju kami mungkin bisa dicuci hilang, tapi kenangan malam itu di Ledokombo akan melekat selamanya. Sebuah potret masa muda yang tak akan pernah bisa diulang kembali.

