-->

Arek Asrama Eps 3 – Si Jagal Sapi

Pengenalan Program Studi (PPS) di kampus kami zaman itu ibarat audisi survival show—bedanya nggak ada hadiahnya, cuma ada penderitaan. Tahun 2005 masih menjunjung tinggi kearifan lokal bernama "perpeloncoan". Syaratnya di luar nalar. Bayangkan, kami disuruh membawa kacang hijau tepat 2005 butir merujuk tahun kami PPS! Kurang satu dimaki, lebih satu disuruh balikin ke emaknya kacang hijau. Belum lagi disuruh mencari pulpen merek "Nimed" (ini pulpen atau nama obat puskesmas?) sampai cukur rambut sisa 1 cm alias botak nanggung mirip rambutan dikupas.

Di tengah kepanikan massal ini, ada satu spesies langka bernama Koko. Tingkat ambisinya mengalahkan caleg jelang pemilu. Pagi-pagi buta saat ayam jago aja belum niat senam, dia sudah gedor-gedor membangunkanku demi melakukan quality control tugas-tugas PPS-nya.

Di sisi lain kasur, ada Puji. Teman sekamarku yang satu ini sedang dalam mode power saving. Mulutnya menganga lebar tak peduli badai datang. Dia sempat melek sebentar, melihat Koko yang sedang sibuk sendiri, lalu balik ganti posisi tidur seolah Koko hanyalah halusinasi visual.

Lalu, bagaimana dengan nasib kacang hijau 2005 butir tadi? Sebagai anak asrama sejati, kami memegang teguh prinsip "Sistem Ora Urus". Menghitung ribuan kacang itu mustahil. Jadi, kami ambil saja segenggam, bungkus plastik, beres! Kami sepakat, kalau besok senior nanya, kami akan menjawab dengan wajah paling alim sedunia: "Benar Kak, ini 2005 butir. Kalau Kakak nggak percaya, silakan Kakak hitung sendiri di pojokan."
Pukul 5 pagi, berbekal dandanan mirip gembel elit, kami pawai jalan kaki memakai topi, name tag, sepatu pantofel, celana hitam dan baju putih dari asrama ke kampus. Di pintu gerbang, panitia PPS dari Senat Mahasiswa Keperawatan sudah standby dengan urat leher yang siap putus. Bentakan mereka menyambut pagi kami bak alarm nyaring. Tapi jujur saja, selama tidak ada kontak fisik, omelan senior cuma numpang lewat: masuk kuping kanan, keluar dari lubang hidung.

Lagi pula, hukuman fisik itu cuma selingan sebelum materi yang padat. Dua hari pertama kami lewati dengan santai, bahkan kami sering senyum-senyum mesem menahan tawa menikmati komedi hukuman yang menimpa teman-teman lain.

Masuk hari ketiga, suasana mulai rileks. Kami sibuk menyiapkan malam inagurasi, tapi sebelum itu, ada sesi wajib: Menulis "Kesan dan Pesan" untuk kakak senior.

Habis magrib, kami digiring kembali ke Kelas Besar. Suasana yang tadinya ceria mendadak mencekam. Para senior yang sorenya asyik ngajak main games sambil ketawa-ketiwi, tiba-tiba mukanya berubah garang macam debt collector akhir bulan. Sepertinya ada krisis nasional yang sedang terjadi.

      Sebelumnya: Eps 1 - Istana 900 ribu
                             Eps 2 - Film Pemersatu Bangsa

Ternyata, ada insiden diplomasi! Di tumpukan surat kesan-pesan yang syahdu, terselip satu surat kaleng anonim yang isinya bukan pesan moral, melainkan makian brutal. Tulisan di surat itu sukses bikin salah satu senior menangis tersedu-sedu. Kenapa? Karena si penulis anonim dengan sangat jujur mengkritik omongan kasar sang senior, dan menyamakan wujud senior tersebut persis seperti: Si Jagal Sapi. (Sebuah analogi yang sungguh out-of-the-box untuk calon-calon perawat).

Kami satu angkatan diam membisu. Jangkrik di luar aja kayaknya sungkan mau bunyi. Intimidasi dilepaskan berulang kali, menuntut si penulis mengaku.

Setelah drama yang cukup alot, akhirnya majulah sang tersangka utama. Seorang cowok pendek, bertubuh tambun, dengan wajah bulat yang—sumpah demi apapun—mirip banget sama pelawak Srimulat, Kadir. Dengan tampang tanpa dosa dan raut wajah "emang gue pikirin", dia berjalan ke depan kelas.

Dari situlah aku mengenal Indra. Dan benar saja, teman-teman satu kelompoknya sudah memanggilnya "Kadir".

Melihat Kadir kami di ujung tanduk, jiwa korsa angkatan kami bergejolak! Kami semua rela ikut maju ke depan untuk membelanya. Konsekuensinya ngeri bos: tidak diluluskan PPS dan harus mengulang tahun depan kumpul sama maba lagi. Gengsi dong!

Eh, tapi tunggu dulu...

Ternyata, acara marah-marah, nangis-nangis, dan adegan "Si Jagal Sapi" itu cuma settingan! Skenario sinetron azab kampus belaka!

Setelah sadar dikerjain mentah-mentah, ketegangan berubah jadi tawa lega. Malam Inagurasi di halaman kampus pun pecah! Dan tebak siapa bintang utama malam itu? Siapa lagi kalau bukan Indra alias Kadir. Dengan wajah lawaknya yang iconic, dia mengalungkan gitar dan membawakan lagu Smells Like Teen Spirit dari Nirvana dengan gaya yang super badass.

Dari "Jagal Sapi" menjelma menjadi Kurt Cobain, malam itu ditutup dengan epik!