Kata Om Jamal Mirdad dalam lagu lawasnya, malam minggu itu malam yang panjang. Buat sebagian orang, mungkin panjang karena dihabiskan dengan candle light dinner romantis atau nonton bioskop. Buat kami? Sama panjangnya, tapi beda nasib. Kami ini ibarat kawanan lebah yang lagi cosplay jadi manusia. Bedanya, kalau lebah asli sibuk mengumpulkan madu, lebah-lebah kesepian ini sibuk mencari tempat bernaung agar tidak kelihatan ngenes-ngenes amat saat malam pergantian hari libur.

Untungnya, semesta berbaik hati menyediakan satu sarang utama untuk kapal kami berlabuh: Rumah Dian. Tempat ini adalah suaka, markas besar, sekaligus "panti asuhan" dadakan bagi jiwa-jiwa yang tak punya tujuan di malam minggu. Pintu rumahnya punya jaminan open house yang lebih terpercaya dari janji manis politisi. Kecuali kalau Dian-nya sedang diculik keluar kota oleh keluarga, rumah itu selalu siap sedia menampung raga kami yang kelebihan waktu luang ini.
Rahasia kenapa rumah ini selalu standby adalah karena Dian ini penganut sekte "Apel Terbalik". Alih-alih dia yang repot dandan, manasin motor, dan menembus kemacetan buat nyamperin pacar, justru pacarnyalah yang wajib datang setor muka ke rumahnya. Dian bagaikan Ratu Lebah yang cukup duduk manis di singgasana terasnya menanti sesajen martabak. Berkat rumus apel terbalik inilah, kami selalu punya Nyonya Rumah yang siap menyambut kedatangan pasukan tak diundang.
Uniknya, tingkat keramaian di sarang lebah ini punya zona waktu dan kastanya sendiri. Tepat jam 7 malam, kloter pertama mendarat: pasukan jomblo sejati alias lagi kosong atau baru putus dari pacarnya. Jangan tanya kenapa kami datang kepagian. Kami sudah mandi dari jam 5 sore pakai sabun paling wangi, pakai pomade, rapi jali, tapi bingung mau pamer ke siapa. Alhasil, meluncur gasik ke rumah Dian adalah bentuk validasi eksistensi, biar kalau ditanya tetangga, "Mau ke mana, Mas?", kami bisa jawab dengan gaya, "Biasa, malam mingguan, Pak!" padahal ujung-ujungnya cuma numpang mabar dan main karambol.
Nah, keramaian yang hakiki baru meledak di kisaran jam setengah sembilan sampai jam sembilan malam. Di jam kritis inilah kloter kedua, yakni mereka yang punya pacar, jika tidak punya pacar siap-siap turun kasta ke jam 7 malam, di jam 9 itu mereka mulai berdatangan dengan wajah pasrah dan sisa-sisa wangi parfum yang mulai pudar. Mereka merapat ke sarang bukan karena tiba-tiba kangen tongkrongan, tapi karena baru saja diusir secara halus oleh orang tua pacarnya. Entah bapak si cewek sudah mulai dehem-dehem batuk palsu di ruang tamu, atau lampu teras sudah dimatikan, yang jelas jam malam mereka habis, Bro!
Begitu dua kasta beda nasib ini berkumpul—para jomblo dan para pelarian dari calon mertua—barulah ritual malam minggu yang sesungguhnya meledak. Canda, tawa, dan gibah berhamburan ke udara bersaing dengan wangi obat nyamuk bakar. Menunya? Kasta tertinggi kuliner tongkrongan: gorengan anget yang dibeli pakai uang patungan bongkar dompet, bakso depan Rumah Sakit Kalisat, dan aneka minuman santai sachet-an. Di momen ini, saling ceng dan menertawakan nasib satu sama lain adalah hiburan paling mewah sedunia.
Di sarang inilah kami bisa lepas tanpa beban, merayakan kebebasan hingga jam sebelas atau bahkan jam dua belas malam. Waktu berjam-jam itu terasa sangat berharga, karena hanya di hari Sabtu keramat inilah emak-emak kami di rumah menurunkan "visa izin pulang larut". Di luar hari itu, lewat dari jam sepuluh malam dijamin gembok pagar rumah sudah dikunci rapat dan nama kami dicoret dari Kartu Keluarga. Jadi, biarlah kami tertawa sepuasnya di sarang lebah ini, sebelum besok pagi kembali ke realita menjadi anak rumahan yang disuruh emak beli minyak tanah.